Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Village Community Adaptation to Agricultural Downstreaming Muhamad Chairul Basrun Umanailo; Varissca Utari Tuharea; Muhtyaningsih Harum Ode Halidu; Marwan Hidayat Lussy; Aswar Muhidin
Journal of Research in Social Science and Humanities Vol 5, No 4 (2025)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jrssh.v5i4.521

Abstract

Agricultural downstream innovation in Buru Regency, Maluku, has significant potential to absorb local labor, reduce unemployment, and improve the welfare of rural communities. The region's abundant natural resources should be utilized to support national food security through efficient agricultural processing. This study employed a qualitative method with an explanatory case study approach to examine the causal relationships between variables. Thirty informants were selected purposively from seven villages. Data were collected through in-depth interviews and participant observation, then analyzed thematically using MAXQDA 24.4.1 software. The findings indicate that rural communities are actively adapting to agricultural downstreaming through social and economic strategies, while preserving cultural heritage. This process combines value-added creation, risk management, and social capital utilization. However, for socio-economic resilience to be sustainable, support is needed in the form of technology adoption, resource access, and inclusive social participation. Future policies should strengthen social capital, preserve local values, economic innovation, and community participation. Further research is recommended to explore the impact of value changes, technological barriers, social capital mapping, and a comparison of adaptation models.
Transmisi Bahasa Wolio dan Resiliensi Budaya pada Masyarakat Pesisir Kota Bau-Bau Arifandi Waikabo; Varissca Utari Tuharea; Aswar Muhidin; Muhamad Chairul Basrun Umanailo; Albar Adetary Hasibuan; Khalid Rahman
Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS) Vol 9, No 1 (2026): Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), August
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jehss.v9i1.3116

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi ekosistem transmisi bahasa Wolio pada masyarakat pesisir Kota Bau-bau di tengah masifnya tekanan modernisasi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, kajian ini menolak ekstraksi data yang mekanis dengan mengadopsi paradigma akademik asubsisten, di mana proses penelitian diposisikan sebagai upaya etis untuk merawat makna dan suara autentik komunitas. Data naratif yang dihimpun dari lapangan dianalisis secara struktural dan spasial menggunakan perangkat lunak MAXQDA 24. Hasil penelitian mengungkap empat temuan fundamental: (1) internalisasi filosofi budaya, seperti nilai Pobinci-binciki kuli, beroperasi sebagai poros utama yang mendikte etika dan nilai bahasa Wolio; (2) pewarisan bahasa tidak bersifat instruksional, melainkan tumbuh secara organik melalui pola komunikasi keluarga yang diikat oleh kuatnya solidaritas sosial; (3) praktik ritual pesisir berfungsi sebagai benteng resiliensi terakhir yang menjaga kemurnian struktur bahasa dari arus profan modernitas; dan (4) konsistensi penggunaan bahasa serta kepatuhan pada etika tutur di ruang publik dan domestik menjadi prasyarat mutlak bagi keberlanjutan identitas. Disimpulkan bahwa daya tahan bahasa Wolio melampaui urusan pelestarian linguistik semata; ia merupakan praksis perlawanan kultural yang multidimensi, yang keberhasilannya sangat bergantung pada kedisiplinan komunitas dalam merawat memori kolektif dan martabat manusia pesisir.