Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana gender diwakili lewat cara berbicara atau genderlect dalam percakapan film Home Sweet Loan (2023), dengan menekankan bagaimana interaksi antara karakter pria dan wanita mencerminkan konstruksi sosial mengenai peran gender. Dalam kajian ini, bahasa dilihat sebagai lebih dari sekadar alat komunikasi, melainkan sebagai praktik sosial yang kaya akan ideologi dan hubungan kekuasaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis (AWK) menurut Fairclough, yang dikombinasikan dengan teori genderlect dari Deborah Tannen sebagai dasar analisis. Data yang digunakan adalah kutipan dialog film yang dianalisis berdasarkan tiga aspek: teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter wanita, terutama Kaluna, menggunakan cara berbicara yang bersifat afektif dan tegas untuk menegaskan kemandirian serta menantang norma patriarki. Sebaliknya, karakter pria cenderung menggunakan gaya berbicara yang dominan. Percakapan dalam film menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat ideologis yang tidak hanya mempertahankan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menentang stereotip gender. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa Home Sweet Loan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga berperan sebagai ruang diskusi yang mencerminkan dan membentuk kembali pemahaman masyarakat tentang kesetaraan gender dalam budaya populer Indonesia.
Copyrights © 2025