Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penanganan guru bimbingan dan konseling (BK) terhadap kecemasan sosial pada siswa disabilitas low vision ringan di sekolah inklusi tanpa Guru Pendamping Khusus (GPK). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus di MTs. Satu Atap Nuris Sempolan, Jember. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima informan (guru BK, siswa, wali kelas, kepala madrasah, dan orang tua), observasi non-partisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru BK menangani kecemasan sosial siswa melalui konseling individu dengan pendekatan personal layaknya teman, kunjungan rumah (home visit), kolaborasi dengan wali kelas, orang tua, dan kepala madrasah, serta bimbingan klasikal kepada teman sebaya untuk mencegah perundungan. Teknik yang digunakan berupa restrukturisasi pola pikir dan relaksasi pernapasan disertai latihan bertahap, yang secara konseptual sejalan dengan pendekatan kognitif-perilaku dan desensitisasi sistematis, meskipun diterapkan secara intuitif tanpa merujuk pada nama teknik secara formal. Meskipun tanpa GPK, penanganan tetap berjalan efektif melalui kolaborasi yang kuat antarpemangku kepentingan sekolah, sehingga interaksi sosial siswa membaik dan siswa bersedia kembali bersekolah.
Copyrights © 2026