Pariwisata berbasis desa menjadi strategi unggulan dalam pembangunan ekonomi lokal pasca pandemi COVID-19 karena menawarkan pendekatan inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan. Desa Wisata Jamu Kiringan di Bantul memiliki potensi besar dalam wisata herbal tradisional yang masih belum didukung sistem promosi dan pencatatan digital yang optimal. Untuk menjawab tantangan ini, dilakukan kegiatan pengabdian dengan metode Participatory Action-Based Learning (PABL), yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam merancang solusi. Kegiatan terdiri atas empat tahapan: (1) Perencanaan dan identifikasi kebutuhan desa, (2) Pelatihan promosi digital dan penguatan branding melalui media sosial, (3) Pelatihan penggunaan aplikasi pencatatan wisatawan menggunakan Google Forms dan Sheets, serta (4) Evaluasi dan refleksi. Hasilnya, pelatihan ini meningkatkan kemampuan teknis dan kesadaran digital masyarakat desa dalam promosi dan akuntansi kunjungan wisatawan. Meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan perangkat dan literasi digital, program ini berhasil memicu transformasi digital awal di desa. Ke depan, perlu dukungan berkelanjutan berupa penyediaan perangkat, pelatihan lanjutan, dan kemitraan strategis dengan pihak luar agar transformasi digital desa berjalan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026