Fenomena komersialisasi pelayanan rohani dalam gereja kontemporer menunjukkan adanya kecenderungan penggunaan retorika religius untuk membenarkan praktik pelayanan yang berorientasi pada keuntungan finansial. Dalam kajian teologi praktis, fenomena ini umumnya dibahas dalam kerangka etika pelayanan atau kritik terhadap teologi kemakmuran. Namun, pendekatan tersebut belum secara khusus mengkaji praktik tersebut sebagai bentuk sofisme spiritual, yaitu distorsi epistemologis-teologis yang memanfaatkan bahasa dan simbol religius untuk tujuan pragmatis. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena tersebut melalui perspektif Pendidikan Agama Kristen dengan mengkonstruksi konsep sofisme spiritual sebagai kategori analitis dalam memahami penyimpangan pelayanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan teologis-filosofis yang dipadukan dengan analisis fenomenologis terhadap praktik pelayanan gereja kontemporer. Data diperoleh melalui analisis literatur teologi dan filsafat klasik, serta dokumentasi publik seperti khotbah, promosi pelayanan rohani, dan narasi praktik pelayanan yang menunjukkan indikasi komersialisasi spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sofisme spiritual termanifestasi melalui tiga pola utama: manipulasi retorika teologis untuk membenarkan orientasi material, penggunaan simbol-simbol religius sebagai alat legitimasi otoritas rohani, serta transformasi pelayanan menjadi relasi transaksional antara pelayan dan jemaat. Fenomena ini tidak hanya menciptakan ketidaksesuaian antara doktrin dan praktik gereja, tetapi juga menimbulkan distorsi epistemologis dalam pemahaman iman dan melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi gereja.
Copyrights © 2026