Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Missi di Era Disrupsi dan Pandemic Markus Suwandi; Sayang Tarigan
Formosa Journal of Multidisciplinary Research Vol. 1 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.931 KB) | DOI: 10.55927/fjmr.v1i2.590

Abstract

 Jesus the Messiah, the Son of God was in His divine mission has prophesied His presence since the fall of the first man from sin. The person of Jesus has always been an interestings discussion and continued until the postmodern era when there was disruption and pandemics. Jesus Christ gave the disciples a missionary mandate to preach the Gospel. Observe the basics mission mandated by Jesus in John 20:21-22. But how is the Christian mission in the era of disruption and pandemics? This paper uses a descriptive methode approach with literature studies and exposition of reference texts as the database. God revealed His love in the mission of sending His Son into the world with a holy purpose to atone for sins. Likewise, Jesus sent disciples in every era encountered to preach the gospel. The Trinity divines God synergizes with the mission of the disciples. From this discussion, it is unequivocal that mission has a biblical basis in every era that existings.  
Yesus Kristus dan Hukum Taurat di Era Anugerah Ferry Simanjuntak; Markus Suwandi
Formosa Journal of Multidisciplinary Research Vol. 1 No. 4 (2022): August 2022
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjmr.v1i4.868

Abstract

Yesus dalam misi Ilahi Nya telah dinubuatkan sejak kejatuhan manusia pertama. Pembahasan Pribadi ini menarik dan berkelanjutan sampai masa anugerah. Ketidakmengertian teks Matius 5:17-20 berimplikasi pada pemikiran skeptis dan kritis tentang Taurat, masihkah berlaku di masa anugerah?. Sehingga mengerti dan memahami frasa Yesus datang menggenapi Taurat dalam perspektif yang benar. Menemukan makna kedatangan Yesus sesuai Alkitab. Hasil pembahasan jelas bahwa Taurat sudah tergenapi namun berlanjut sampai masa anugerah hingga penggenapan kedatangan Nya kedua kali yang ultimate.
Tinjauan Pendidikan Agama Kristen terhadap Sofisme Spiritual: Distorsi Nilai-Nilai Kekristenan dalam Pelayanan Bermotif Finansial Victor Deak; Markus Suwandi; Solihin Bin Nidin
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): MARET
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v5i2.303

Abstract

Fenomena komersialisasi pelayanan rohani dalam gereja kontemporer menunjukkan adanya kecenderungan penggunaan retorika religius untuk membenarkan praktik pelayanan yang berorientasi pada keuntungan finansial. Dalam kajian teologi praktis, fenomena ini umumnya dibahas dalam kerangka etika pelayanan atau kritik terhadap teologi kemakmuran. Namun, pendekatan tersebut belum secara khusus mengkaji praktik tersebut sebagai bentuk sofisme spiritual, yaitu distorsi epistemologis-teologis yang memanfaatkan bahasa dan simbol religius untuk tujuan pragmatis. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena tersebut melalui perspektif Pendidikan Agama Kristen dengan mengkonstruksi konsep sofisme spiritual sebagai kategori analitis dalam memahami penyimpangan pelayanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan teologis-filosofis yang dipadukan dengan analisis fenomenologis terhadap praktik pelayanan gereja kontemporer. Data diperoleh melalui analisis literatur teologi dan filsafat klasik, serta dokumentasi publik seperti khotbah, promosi pelayanan rohani, dan narasi praktik pelayanan yang menunjukkan indikasi komersialisasi spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sofisme spiritual termanifestasi melalui tiga pola utama: manipulasi retorika teologis untuk membenarkan orientasi material, penggunaan simbol-simbol religius sebagai alat legitimasi otoritas rohani, serta transformasi pelayanan menjadi relasi transaksional antara pelayan dan jemaat. Fenomena ini tidak hanya menciptakan ketidaksesuaian antara doktrin dan praktik gereja, tetapi juga menimbulkan distorsi epistemologis dalam pemahaman iman dan melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi gereja.