Bandar udara sebagai infrastruktur vital penerbangan senantiasa dihadapkan pada risiko kebakaran yang dapat mengancam keselamatan penumpang, pegawai, maupun aset operasional. Salah satu upaya mitigasi risiko tersebut adalah penyelenggaraan pelatihan pencegahan kebakaran bagi pegawai yang bertugas di lingkungan bandar udara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan pelatihan pencegahan kebakaran bagi pegawai di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali serta mengidentifikasi kendala utama yang dihadapi selama proses pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) yang difokuskan pada komponen Process. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur terhadap tiga kategori informan kunci (supervisor training, instruktur, dan peserta pelatihan), serta studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan telah diselenggarakan secara sistematis oleh unit Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF) sesuai standar operasional prosedur, memadukan 4 jam pembelajaran teori dengan 4 jam praktik pengoperasian Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan sistem Hydrant. Meskipun demikian, ditemukan sejumlah kendala, antara lain bentroknya jadwal pelatihan dengan kegiatan operasional bandar udara, keterbatasan waktu praktik, besarnya jumlah peserta per sesi, belum meratanya kesempatan pelatihan bagi seluruh pegawai, serta munculnya kepanikan peserta saat simulasi. Penelitian ini merekomendasikan penerapan penjadwalan bergelombang, peningkatan koordinasi antarunit kerja, penambahan frekuensi latihan, dan pendampingan personal untuk memperkuat kesiapsiagaan pegawai dalam menghadapi keadaan darurat kebakaran.
Copyrights © 2026