Pertumbuhan sektor manufaktur secara umum dipandang sebagai salah satu pendorong utama penyerapan tenaga kerja. Meningkatnya penggunaan teknologi padat modal dan otomatisasi menimbulkan pertanyaan mengenai keterkaitan antara pertumbuhan output dan kesempatan kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri manufaktur terhadap proporsi tenaga kerja sektor manufaktur di Indonesia selama periode 2015–2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif dan memanfaatkan data sekunder time series tahunan yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), meliputi PDB industri manufaktur atas dasar harga konstan 2010 serta data tenaga kerja dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Variabel dependen diukur menggunakan proporsi tenaga kerja sektor manufaktur terhadap total tenaga kerja nasional, bukan jumlah absolut tenaga kerja, sehingga dapat menggambarkan perubahan struktural dalam komposisi ketenagakerjaan. Sampel penelitian terdiri atas sembilan observasi tahunan yang dipilih berdasarkan ketersediaan dan konsistensi data. Analisis dilakukan menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan IBM SPSS Statistics, meliputi statistik deskriptif, uji asumsi klasik, uji t, uji F, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan PDB industri manufaktur tidak berpengaruh signifikan terhadap proporsi tenaga kerja sektor manufaktur (t = 0,636; Sig. = 0,545; R² = 5,5%). Temuan tersebut mengindikasikan kecenderungan decoupling antara pertumbuhan output manufaktur dan penyerapan tenaga kerja, yang dapat berkaitan dengan meningkatnya otomatisasi dan penggunaan teknologi padat modal. Implikasi penelitian menunjukkan perlunya kebijakan industri dan ketenagakerjaan yang lebih berorientasi pada penciptaan kesempatan kerja yang inklusif.
Copyrights © 2026