Artikel ini mengkaji makna kebebasan dalam kerangka pemikiran Thomas Aquinas, dengan menitikberatkan pada hubungan antara intelek dan kehendak dalam tradisi skolastik. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan (library research) melalui pendekatan hermeneutik-filosofis terhadap teks primer Summa Theologiae serta sumber-sumber ilmiah sekunder, penelitian ini berargumen bahwa kebebasan manusia menurut Aquinas tidak dapat direduksi menjadi spontanitas kehendak yang arbitrer, maupun determinisme intelektual semata. Kebebasan justru muncul dari kerja sama yang dinamis dan resiprokal antara intelek, yang menangkap kebaikan sebagai objek yang layak dituju, dan kehendak, yang bergerak menuju kebaikan tersebut setelah dihadirkan oleh intelek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis antara intelek dan kehendak ini, yang dijembatani melalui konsep rasio praktis (recta ratio), memberikan landasan teologis-filosofis untuk memahami kebebasan bukan sebagai ketiadaan batasan, melainkan sebagai kapasitas rasional untuk memilih kebaikan yang sejati. Penelitian ini menyimpulkan bahwa antropologi skolastik Aquinas menawarkan alternatif konstruktif terhadap konsepsi kebebasan modern yang cenderung memisahkan akal budi dari pilihan moral.
Copyrights © 2026