Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia mengalokasikan delapan ribu rupiah per porsi untuk bahan makanan siswa kelas satu hingga tiga sekolah dasar, namun kecukupan gizi yang dapat dicapai dalam batas anggaran ini belum diuji secara kuantitatif. Penelitian ini mengembangkan model integer goal programming leksikografis dua tahap untuk menyusun siklus menu lima hari bagi anak usia 7–9 tahun di Palangka Raya dari 16 bahan pangan lokal dalam bentuk matang. Sembilan sasaran gizi yang ditetapkan sebesar sepertiga Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia tahun 2019 diperlakukan sebagai sasaran, sedangkan batas atas lemak, energi, zat besi, vitamin A, dan anggaran, serta aturan komposisi piring seimbang dan variasi antarhari, bertindak sebagai kendala keras. Tahap pertama meminimalkan total deviasi gizi terbobot yang dinormalkan, dan tahap kedua meminimalkan biaya bahan makanan dengan mengunci kualitas gizi dari tahap pertama, sehingga prioritas antara kedua tujuan tersebut terjamin secara eksak. Menu optimal membutuhkan biaya rata-rata sebesar 6.731 rupiah per porsi, atau sekitar 7.431 rupiah termasuk alokasi bumbu, yang menegaskan bahwa anggaran tersebut memadai. Tujuh dari sembilan sasaran gizi terpenuhi setiap hari; serat mencapai 48 hingga 100% dan kalsium 86 hingga 107% dari sasaran. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa model tetap layak hingga batas 6.605 rupiah per porsi dan bahwa defisit serat bersumber dari komposisi daftar bahan pangan, bukan dari keterbatasan anggaran.
Copyrights © 2026