Penelitian ini berangkat dari melemahnya transmisi pappaseng sebagai pesan leluhur Bugis di tengah perubahan sosial dan dominasi komunikasi digital pada generasi milenial. Penelitian bertujuan menjelaskan bentuk, fungsi sosiopragmatik, dan nilai karakter pappaseng yang hidup dalam masyarakat Kabupaten Bone. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan observasi partisipatif, dokumentasi teks, perekaman, pencatatan, serta analisis tematik-sosiopragmatik. Data utama berupa tiga bentuk pappaseng, yakni elong, warekkada, dan tuturan percakapan, yang diperoleh dari dokumentasi budaya dan informan milenial yang dipilih secara purposif. Hasil menunjukkan bahwa pappaseng beroperasi sebagai tuturan direktif bernilai normatif yang menanamkan religiositas, pengendalian diri, siri’, penghormatan sosial, tanggung jawab ekologis, dan keberlanjutan budaya. Bentuk tuturan menentukan strategi penyampaian pesan, sedangkan otoritas leluhur memperkuat daya ikat moralnya. Penelitian menyimpulkan bahwa pappaseng tetap relevan sebagai sumber pendidikan karakter kontekstual. Kontribusi penelitian ialah merumuskan pappaseng sebagai wacana direktif kultural yang menghubungkan bentuk bahasa, norma sosial, dan internalisasi karakter generasi muda di Bone kontemporer secara sistematis.
Copyrights © 2026