The development of digital technology encourages vocational education to produce graduates who are not only technically competent but also adaptable to the ever-changing needs of industry. This study examines the implementation strategy of Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) expertise program at SMK Insan Mandiri in responding to the increasingly complex demands of the workforce. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews with the vice principal for curriculum and productive teachers as key informants. The results indicate integration among Project-Based Learning (PjBL), technical certification programs, and industry partners' involvement in curriculum development and practice-based assessment. The core competencies developed include network management, server virtualization, cybersecurity, and fiber optic technology. However, challenges such as limited facilities, low interest in theoretical learning, and a lack of local context in learning planning remain. This study provides an empirical contribution to the literature on vocational education during the transition to the national curriculum. Its practical implications highlight the importance of school autonomy in learning innovation and the need to strengthen strategic collaboration between schools and industry to better prepare graduates to face the challenges of a dynamic digital workforce. Abstrak Perkembangan teknologi digital mendorong pendidikan vokasi untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri yang terus berubah. Penelitian ini mengkaji strategi implementasi program keahlian Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) di SMK Insan Mandiri dalam merespons tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan guru produktif sebagai informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan adanya integrasi antara Project-Based Learning (PjBL), program sertifikasi teknis, serta keterlibatan mitra industri dalam penyusunan kurikulum dan asesmen berbasis praktik. Kompetensi utama yang dikembangkan mencakup manajemen jaringan, virtualisasi server, keamanan siber, serta teknologi fiber optik. Namun, tantangan seperti keterbatasan fasilitas, rendahnya minat terhadap pembelajaran teoritis, dan kurangnya konteks lokal dalam perencanaan pembelajaran masih ditemukan. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap literatur pendidikan vokasi pada masa transisi kurikulum nasional. Implikasi praktisnya menyoroti pentingnya otonomi sekolah dalam inovasi pembelajaran serta perlunya penguatan kolaborasi strategis antara sekolah dan industri agar lulusan lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja digital yang dinamis. Kata Kunci: implementasi kurikulum; kolaborasi industri; pembelajaran berbasis proyek; pendidikan vokasional
Copyrights © 2026