Artikel menganalisis film pendek Indonesia yang berjudul Sammi, Who Can Detach His Body Parts (2025) sebagai teks yang memvisualisasikan kehilangan melalui tubuh yang terfragmentasi dan menampilkan phallus sebagai simpul simbolik kuasa dan pengakuan. Kerangka teori utama menggunakan pemikiran Christian Metz, tentang sinema sebagai imaginary signifier yang bekerja melalui konflik hadir–absen dan rantai identifikasi penonton, lalu diperluas dengan psikoanalisis Lacan untuk membaca phallus sebagai penanda yang mengatur posisi hasrat melampaui kepemilikan tubuh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis film interpretatif. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa film menyusun kehilangan sebagai rangkaian jejak, sehingga pencarian ibu atas sisa tubuh bergerak searah dengan kerja penonton yang mengikat fragmen, sementara absennya phallus menjadi puncak konflik karena standar sosial maskulinitas dan legitimasi pemakaman. Adegan peminjaman phallus untuk balas dendam merupakan penanda atas ketidakstabilan otoritas falosentris dan memperlihatkan bahwa pembalikan relasi kuasa tidak serta merta menghadirkan keadilan.
Copyrights © 2026