Optimalisasi pemanfaatan fasilitas bandar udara menjadi isu strategis seiring meningkatnya tuntutan efisiensi operasional dan diversifikasi sumber pendapatan non aeronautika. Meskipun aviobridge berperan penting dalam meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan efisiensi proses boarding serta deboarding penumpang, tingkat pemanfaatannya di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Maros belum optimal sehingga berpotensi mengurangi peluang peningkatan pendapatan bandar udara. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pemanfaatan aviobridge, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penggunaannya, serta merumuskan strategi optimalisasi untuk meningkatkan pendapatan bandar udara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang didukung analisis kuantitatif sederhana. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dokumentasi, dan analisis data operasional tahun 2025 yang melibatkan unit Apron Movement Control, operator aviobridge, ground handling, maskapai, data entry officer, dan unit komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan aviobridge mencapai 64,77% atau 48.503 penggunaan dari 74.881 pergerakan pesawat, dengan estimasi pendapatan aktual sebesar Rp21,83 miliar dan potensi pendapatan maksimal mencapai Rp33,70 miliar. Pemanfaatan aviobridge dipengaruhi oleh pengaturan gate dan parking stand, penggunaan remote stand, turn around time, biaya layanan, kesiapan operator, serta koordinasi antar stakeholder. Penelitian ini memberikan implikasi praktis berupa rekomendasi optimalisasi pengelolaan aviobridge berbasis data operasional, peningkatan koordinasi, evaluasi kebijakan tarif, dan pengelolaan fasilitas yang lebih efektif untuk mendukung peningkatan pelayanan penumpang dan pendapatan bandar udara.
Copyrights © 2026