Penelitian ini menyintesis transformasi prosa fiksi Indonesia dari 1920-an hingga 2000-an dengan menghubungkan perkembangan sastra, apresiasi, dan kritik sastra. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan memahami periodisasi sastra bukan sekadar sebagai klasifikasi kronologis, melainkan sebagai hubungan antara konteks sosiohistoris, perubahan estetika, institusi penerbitan, dan resepsi pembaca. Penelitian menggunakan tinjauan pustaka naratif kualitatif. Data bersumber dari literatur akademik yang membahas prosa Indonesia, sejarah sastra, kritik, apresiasi, pembelajaran, dan ekologi penerbitan. Analisis dilakukan melalui kerangka periode–konteks–estetika–resepsi. Hasil penelitian menunjukkan empat fase yang saling bertumpang tindih, yaitu penerbitan kolonial dan pembentukan prosa modern; nasionalisme, revolusi, dan individualisasi tokoh; kritik ideologis serta eksperimentasi naratif; dan pluralisasi tema, suara gender, identitas urban, penerbitan alternatif, serta platform sastra digital. Implikasinya, apresiasi dan kritik sastra berfungsi sebagai infrastruktur resepsi yang menjaga, menilai, dan menegosiasikan kanon prosa Indonesia.
Copyrights © 2026