Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi pandangan masyarakat Kristen di Manado terhadap kemajemukan agama dalam perspektif teologi sosial kontemporer serta mengidentifikasi faktor teologis, kultural, dan pendidikan yang mendukung terbentuknya sikap inklusif. Penelitian ini bermanfaat secara teoretis bagi pengembangan teologi sosial kontekstual dan secara praktis bagi gereja serta lembaga pendidikan Kristen dalam memperkuat toleransi, dialog lintas agama, pendidikan perdamaian, dan literasi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari artikel jurnal, buku akademik, hasil penelitian terdahulu, dan dokumen kelembagaan yang relevan, kemudian dianalisis secara tematik melalui proses identifikasi, pengodean, pengelompokan tema, perbandingan, dan sintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan inklusif masyarakat Kristen di Manado dibentuk melalui keterkaitan antara teologi kasih, konsep Imago Dei, kearifan lokal Torang Samua Basudara, budaya Mapalus, pengalaman interaksi lintas agama, serta pendidikan Kristen. Pendidikan Kristen berperan penting dalam mentransformasikan nilai tersebut menjadi karakter inklusif, sedangkan gereja, keluarga, sekolah, dan komunitas menjadi ruang strategis pembentukannya. Penelitian menyimpulkan bahwa kemajemukan perlu dipahami bukan sekadar sebagai realitas yang ditoleransi, tetapi sebagai ruang praksis iman untuk membangun persaudaraan, perdamaian, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Copyrights © 2026