Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara mendalam pengalaman, dilema, dan strategi kepemimpinan perempuan dalam implementasi pengukuran mutu pendidikan di Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Canduang. Metode: Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap kepala MAS Canduang sebagai informan utama, menggunakan pedoman wawancara semi-terstruktur. Analisis data menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) yang meliputi reduksi, identifikasi tema, dan penafsiran makna. Hasil: Penelitian menemukan tiga dilema utama: (1) antara tuntutan administratif-birokratis dan kultur pesantren; (2) antara penegakan aturan mutu secara kaku dan pemeliharaan keharmonisan interpersonal; serta (3) antara tekanan target mutu dan dinamika psikologis-emosional sebagai pemimpin perempuan. Strategi kepemimpinan yang ditempuh meliputi pendekatan komunikasi persuasif-dialogis, musyawarah, keteladanan, serta keseimbangan antara ketegasan dan empati. Kebaruan: Penelitian ini menawarkan model komunikasi 3D (Dialogue-Deliberation-Delicacy) sebagai gaya khas kepemimpinan perempuan di madrasah. Selain itu, ditemukan bahwa esensi mutu di madrasah tidak hanya "terukur secara angka" tetapi juga "terasa dalam budaya" sebuah temuan yang mengkritisi orientasi kuantitatif standar mutu nasional.
Copyrights © 2026