Empowering rural women through the optimization of unproductive land is a crucial strategy for inclusive and sustainable development. Tambakromo Village in Ngawi possesses 1,200 m² of underutilized land, alongside limited involvement of PKK (Family Welfare Empowerment) members in productive economic activities. The Agronita program aims to enhance the technical capacity of the PKK group, optimize village land use, and establish sustainable partnerships with the Forestry Agency through avocado cultivation. Implemented in July 2026 using a Participatory Action Research (PAR) approach, the program engaged 29 PKK members. Results indicate that the initial outreach session was attended by 24 members (82.8%), exceeding the planned target of 20 participants. Subsequently, 21 members participated in planting 30 avocado seedlings. Observations one week post-planting revealed that 27 seedlings (90%) were thriving—meeting the minimum target—while three seedlings exhibited signs of mild stress. The PAR approach proved effective in fostering active participation and a sense of community ownership, supported by cross-sector coordination and a commitment to rotational maintenance shared among the PKK, the Village Government, and the Forestry Agency. The Agronita program demonstrates that integrating women's empowerment, land optimization, and technical guidance can foster economic self-reliance and contribute to achieving the SDGs—specifically regarding gender equality, economic growth, and life on land. Abstrak: Pemberdayaan perempuan di perdesaan melalui optimalisasi lahan yang belum produktif merupakan strategi penting dalam pembangunan inklusif dan berkelanjutan. Desa Tambakromo, Ngawi, memiliki lahan seluas 1.200 m² yang belum dimanfaatkan secara optimal serta keterbatasan keterlibatan anggota PKK dalam kegiatan ekonomi produktif. Program Agronita bertujuan untuk meningkatkan kapasitas teknis kelompok PKK, mengoptimalkan pemanfaatan lahan desa, dan membangun kemitraan berkelanjutan dengan Dinas Kehutanan melalui budidaya alpukat. Program dilaksanakan pada Juli 2026 dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan 29 anggota PKK. Hasil menunjukkan bahwa sosialisasi diikuti oleh 24 anggota (82,8%), jumlah ini melampaui target yang direncanakan yaitu 20 orang. Sedangkan dalam tahap berikunya terdapat 21 anggota yang terlibat dalam penanaman 30 bibit alpukat. Pengamatan satu minggu pascapenanaman menunjukkan 27 bibit (90%) tumbuh dengan baik sesuai target minimal, sementara 3 bibit mengalami stres ringan. Pendekatan PAR efektif mendorong partisipasi aktif dan rasa kepemilikan masyarakat, didukung oleh koordinasi lintas sektor serta komitmen pemeliharaan bergilir antara PKK, Pemerintah Desa, dan Dinas Kehutanan. Program Agronita menunjukkan bahwa integrasi pemberdayaan perempuan, optimalisasi lahan, dan pendampingan teknis dapat mendukung kemandirian ekonomi serta pencapaian SDGs, khususnya kesetaraan gender, pertumbuhan ekonomi, dan ekosistem daratan. Kata Kunci: Pemberdayaan Perempuan, Alpukat, Participatory Action Research, Lahan Desa, PKK
Copyrights © 2026