Aksesibilitas pelayanan kefarmasian di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan infrastruktur, tenaga kesehatan, dan ketersediaan obat. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi secara mendalam aksesibilitas pelayanan kefarmasian di Desa Sanatab, Kalimantan Barat. Studi kasus kualitatif ini melibatkan enam informan yang dipilih secara purposive and accidental sampling, terdiri dari tokoh masyarakat dan pengguna layanan. Data dikumpulkan melalui Focus Group Discussion (FGD) kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi dua tema utama: akses geografis dan transportasi, serta akses terhadap ketersediaan obat dan logistik farmasi. Hambatan utama meliputi ketiadaan angkutan umum dan ketidaklengkapan stok obat esensial di puskesmas. Masyarakat mengembangkan strategi adaptif berupa self-medikasi, pengobatan tradisional, pemanfaatan tenaga mantri, serta pengobatan lintas negara ke Malaysia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa aksesibilitas pelayanan kefarmasian di perbatasan tidak cukup hanya dengan keberadaan fasilitas kesehatan, tetapi harus didukung transportasi publik yang terjangkau dan jaminan ketersediaan obat esensial secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026