Perkembangan ilmu bimbingan dan konseling di Indonesia masih didominasi oleh teori-teori dari budaya Barat yang belum tentu sesuai dengan konteks budaya lokal, sehingga mendorong perlunya pengembangan konseling indigenous yang berakar pada kearifan lokal setempat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai kearifan lokal Sulawesi Selatan yang potensial diintegrasikan ke dalam layanan bimbingan dan konseling serta merumuskan kerangka awal pengembangan konseling indigenous berbasis nilai-nilai tersebut. Metode yang digunakan adalah narrative literature review dengan mensintesis berbagai literatur terkait kearifan lokal Sulawesi Selatan dan konseling indigenous. Hasil kajian mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal Bugis-Makassar seperti sipakatau (saling memanusiakan), sipakainga (saling mengingatkan), sipaka lebbi (saling memuliakan), lempuk (kejujuran), getteng (keteguhan), reso (etos kerja), dan siri (harga diri) yang relevan dengan kompetensi konselor dan proses konseling. Nilai-nilai ini dapat diintegrasikan melalui pengembangan kompetensi kultural konselor, modifikasi teknik konseling, dan perancangan model intervensi berbasis budaya. Artikel ini merekomendasikan perlunya riset empiris lanjutan untuk menguji efektivitas model konseling indigenous berbasis kearifan lokal Sulawesi Selatan.
Copyrights © 2025