Perawat dan bidan sebagai tenaga kesehatan garda terdepan di Puskesmasrentan mengalami stres kerja yang apabila tidak dikelola dengan baik dapatberkembang menjadi burnout. World Health Organization (WHO) melalui InternationalClassification of Diseases edisi ke-11 (ICD-11) mengakui burnout sebagai fenomena yangberkaitan dengan pekerjaan akibat stres kronis di tempat kerja yang tidakberhasil dikelola. Berdasarkan studi pendahuluan melalui wawancara terhadap 5dari 51 tenaga kesehatan (9,8%) di Puskesmas Baki Kabupaten Sukoharjo yangterdiri atas 3 perawat dan 2 bidan, seluruh responden menyampaikan keluhanmengenai banyaknya pasien dan tingginya tuntutan pekerjaan yang berpotensimenimbulkan stres kerja dan burnout. Penelitian ini bertujuan menganalisishubungan stres kerja dengan kejadian burnout pada perawat dan bidan diPuskesmas Baki Kabupaten Sukoharjo. Penelitian menggunakan desainkuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional terhadap 51 respondenmelalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan Health and SafetyExecutive Work-Related Stress Scale (HSE-WRSS) dan Maslach Burnout Inventory (MBI),kemudian dianalisis menggunakan uji Rank Spearman dengan α = 0,05. Hasilmenunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stres kerja kategorisedang (80,4%) dan burnout kategori tinggi (43,1%). Uji Rank Spearman menunjukkanhubungan positif dan signifikan antara stres kerja dengan burnout (r = 0,454; p =0,001) dengan kekuatan hubungan sedang. Keterbatasan penelitian adalah hanyadilakukan pada satu Puskesmas dengan jumlah responden terbatas danmenggunakan desain cross-sectional. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkanfasilitas kesehatan yang lebih beragam serta mempertimbangkan faktor lainyang berkaitan dengan burnout.
Copyrights © 2026