Remaja merupakan aset penting bagi pembangunan Indonesia, namun saat ini menghadapi berbagai tantangan kesehatan fisik dan mental, seperti pola hidup tidak sehat, penggunaan gadget berlebihan, depresi, hingga risiko bunuh diri. Untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas remaja dalam menjaga kesehatan secara holistik, tim pengabdi Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan program pendampingan kesehatan fisik dan mental bagi 22 siswa SMA IT Harapan Bunda Kota Semarang. Kegiatan ini bertujuan mengoptimalkan psikoedukasi dan literasi fisik berbasis gender guna membentuk karakter sehat serta menyiapkan siswa sebagai agen perubahan dalam lingkungan sekolah. Metode yang digunakan meliputi wawancara, ceramah, diskusi, tanya jawab, dan evaluasi menggunakan kuesioner. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai keterkaitan kesehatan fisik dan mental serta pentingnya peran gender dalam proses psikoedukasi. Analisis korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara pemahaman kesehatan fisik-mental dengan gaya hidup dan penggunaan gadget (r = 0,687; p < 0,05). Sementara itu, hubungan gaya hidup dengan deteksi gangguan mental (r = -0,047) serta pemahaman kesehatan dengan risiko gangguan mental (r = -0,160) bersifat negatif lemah dan tidak signifikan. Selain itu, gender memiliki hubungan positif sedang dan signifikan dengan pemahaman kesehatan (r = 0,459; p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan psikoedukasi dan literasi fisik berbasis gender berpotensi meningkatkan kesadaran remaja dalam menjaga kesehatan fisik dan mental secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026