Masyarakat Batak Toba di Kota Banjarbaru menghadapi tantangan dalam mempertahankan tradisi pernikahan adat di tengah pengaruh modernisasi dan globalisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan pelaksanaan pernikahan adat Batak Toba di Banjarbaru tahun 2006-2023, mengidentifikasi perubahan struktur upacara, dan mengkaji upaya pelestarian nilai-nilai budaya. Metode penelitian menggunakan metode sejarah melalui tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menyimpulkan dua hal utama untuk menjawab rumusan masalah. Pertama, latar belakang pelaksanaan pernikahan adat Batak Toba di Banjarbaru didorong oleh ikatan marga dan komitmen menjaga identitas di tanah rantau. Prosesi pernikahan ini secara utuh bersandar pada struktur Dalihan Na Tolu (hula-hula, dongan tubu, boru) yang diwujudkan melalui tahapan terstruktur mulai dari marhori-hori dinding, marhusip, marhata sinamot, martumpol, hingga pesta unjuk. Kedua, perkembangan tradisi pada periode 2006–2023 menunjukkan pola adaptasi kreatif berupa pemadatan waktu dan tempat akibat keterbatasan biaya, ruang, serta tokoh adat di perantauan. Adaptasi ini memicu pergeseran makna benda adat seperti ulos, tandok, boras si pir ni tondi, dan sinamot yang kini lebih difungsikan sebagai simbol identitas budaya dan penghormatan sosial dibandingkan sebagai sarana ritual sakral-keagamaan. Meskipun terjadi simplifikasi teknis, tradisi ini menunjukkan resiliensi budaya (cultural resilience) yang kuat karena nilai-nilai inti filosofinya tetap dipertahankan secara kolektif.
Copyrights © 2026