Artikel ini mengkaji teori konstruktivisme sebagai landasan konseptual dalam praktik pembelajaran modern yang memandang proses belajar sebagai kegiatan aktif membangun pengetahuan melalui pengalaman, interaksi sosial, dan refleksi. Kajian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan menelaah karya Piaget, Vygotsky, serta literatur kontemporer yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa konstruktivisme kognitif menekankan peran skema, asimilasi, dan akomodasi dalam perkembangan pengetahuan individu, sedangkan konstruktivisme sosial menekankan pentingnya interaksi, bahasa, Zone of Proximal Development, serta scaffolding dalam pembentukan kemampuan kognitif tingkat tinggi. Pembahasan menegaskan bahwa pengetahuan bersifat aktif, sosial, kontekstual, reflektif, dan mendorong kemandirian belajar sesuai dengan prinsip-prinsip konstruktivisme. Implikasi kajian ini menunjukkan bahwa pendidik perlu berperan sebagai fasilitator yang menyediakan dukungan instruksional bertahap, sementara peserta didik diharapkan berperan aktif dalam mengonstruksi makna melalui kolaborasi dan refleksi. Dengan demikian, teori konstruktivisme memberikan dasar teoritis dan praktis bagi perumusan pembelajaran yang lebih efektif, bermakna, dan berorientasi pada peserta didik.
Copyrights © 2026