Praktik syirik di tengah masyarakat Indonesia, termasuk di Jambi, masih menjadi persoalan krusial yang menciptakan kesenjangan antara teori pendidikan agama dan fakta di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kurikulum, faktor pendukung dan penghambat, serta dampak pendidikan tauhid terhadap kesadaran anti-syirik di Ma’had Ubay bin Ka’ab Jambi. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan ustadz dan santri, serta dokumentasi kurikulum. Analisis data dilakukan melalui model Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi, reduksi, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ma’had Ubay bin Ka’ab menerapkan kurikulum tauhid yang intensif dan bertahap melalui kitab-kitab rujukan seperti Al-Ushul Ats-Tsalatsah, Aqidah At-Tauhid, dan Kitab At-Tauhid. Metode pembelajaran mengombinasikan ceramah, tanya jawab, dan praktik ibadah harian yang menekankan ketergantungan hanya kepada Allah. Faktor pendukung utama adalah sistem kurikulum yang terstruktur dan lingkungan pesantren yang kondusif, sementara faktor penghambat terbesar adalah kuatnya tradisi syirik di masyarakat yang memicu resistensi sosial. Dampak pendidikan ini sangat signifikan, di mana santri mengalami transformasi batin dan perilaku, seperti meninggalkan pemakaian jimat, menjauhi ritual adat yang bertentangan dengan syariat, serta meningkatnya kemurnian dalam beribadah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan tauhid yang sistematis dan aplikatif efektif membentuk benteng akidah yang kokoh dalam menangkal praktik kesyirikan di masyarakat.
Copyrights © 2026