Tantangan nyata dari ledakan informasi digital di era pascakebenaran (post-truth) adalah maraknya misinformasi, disinformasi, malinformasi, dan manipulasi konten visual maupun verbal. Komunitas Tapak Maca sebagai komunitas pegiat literasi dan budaya di Kota Bandung mengalami kerentanan terhadap konten negatif di media digital, namun belum memiliki bekal kecakapan kritis dalam membaca dan menganalisis pesan-pesan digital secara holistik. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital anggota komunitas melalui pelatihan membaca media digital dengan cerdas berbasis analisis visual (visual culture) dan bahasa (linguistik). Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui empat sesi pelatihan yang mencakup dasar literasi digital dan disinformasi, analisis visual dan etika konten, linguistik kritis dan wacana digital, serta praktik membaca media digital secara terpadu. Sebanyak 20 anggota komunitas berpartisipasi dalam kegiatan ini. Evaluasi dilakukan melalui perbandingan skor rata-rata pre-test dan post-test serta analisis tematik terhadap wawancara dan observasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata skor literasi digital dari 56,2 menjadi 82,4 (+26,2 poin), dengan dimensi keamanan siber mencatat peningkatan tertinggi (+27,7 poin). Peserta mengalami peningkatan kemampuan identifikasi disinformasi, kesadaran konteks budaya dalam konten visual, kemampuan mengkritisi bahasa dan wacana, serta komitmen etis dalam berinteraksi di ruang digital. Terbentuknya kelompok diskusi mandiri pasca-pelatihan menandakan adanya transformasi sosial berbasis komunitas. Model pelatihan ini direkomendasikan untuk diterapkan pada komunitas literasi serupa sebagai upaya penguatan ketahanan informasi di tingkat akar rumput.
Copyrights © 2026