Pendidikan karakter modern berbasis virtue ethics mengandaikan ontologi substansial tentang diri sebagai bearer of virtue, sementara paradigma ini jarang dikritisi secara metafisis. Artikel ini menganalisis pendidikan karakter dalam kerangka Tisso Sikkhā untuk menawarkan alternatif ontologi prosesual. Penelitian menggunakan metode kajian konseptual-filosofis komparatif dengan analisis tekstual terhadap Tipiṭaka (khususnya Sutta Piṭaka dan Abhidhamma) serta literatur virtue ethics kontemporer. Hasil menunjukkan konvergensi metodologis dalam habituasi kebajikan, namun divergensi mendasar pada tataran ontologis dan teleologis. Pendidikan karakter modern beroperasi dalam asumsi agen moral yang stabil dan berorientasi pada civic virtue, sedangkan Tisso Sikkhā memahami karakter sebagai proses kondisional tanpa inti diri permanen (anattā) dengan orientasi soteriologis menuju vimutti. Implikasinya, Sekolah Minggu Buddha perlu menggeser fokus dari konstruksi identitas moral ke rekayasa kondisi batin melalui integrasi sīla-samādhi-paññā. Artikel ini berkontribusi pada rekonstruksi teoretis pendidikan karakter dalam studi agama berbasis ontologi prosesual.
Copyrights © 2026