Pergeseran arsitektur menuju Microservices kerap memunculkan tantangan overhead infrastruktur yang memicu Microservices Fatigue. Sebagai solusi, arsitektur Modular Monolith menawarkan pendekatan hibrida. Penelitian ini bertujuan membandingkan performa kedua arsitektur dalam menangani transaksi bervolume tinggi. Eksperimen dilakukan pada purwarupa backend sistem tiket online berbasis Domain-Driven Design (DDD) dalam lingkungan kontainerisasi yang terisolasi dengan prinsip ceteris paribus. Pengujian beban (load testing) dilakukan bertahap hingga 700 Virtual Users (VU) menggunakan instrumen Grafana k6 untuk mencegah coordinated omission. Hasil pengujian membuktikan bahwa pada fase stres ekstrem, performa Microservices mengalami kelumpuhan dengan error rate mencapai 70,03% akibat tingginya overhead Inter-Process Communication (IPC) jaringan. Sebaliknya, Modular Monolith tampil jauh lebih stabil dengan throughput mencapai 865,34 RPS dan error rate terjaga di angka 0,13%. Efisiensi ini didapatkan melalui mekanisme pemanggilan fungsi di dalam memori (in-memory method calls) yang berhasil menghindari bottleneck jaringan. Kesimpulannya, Modular Monolith merupakan langkah strategis yang menggabungkan kemudahan pemeliharaan Microservices dengan ketahanan performa Monolitik tradisional, menjadikannya sangat ideal untuk menangani sistem bervolume ekstrem dengan sumber daya terbatas.
Copyrights © 2026