Pembelajaran IPA di sekolah dasar kawasan perbatasan sering bertumpu pada buku teks umum sehingga kurang terhubung dengan pengalaman ekologis, budaya, dan kebahasaan siswa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mendampingi guru SD Negeri Mosso, Kampung Mosso, perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini, dalam memetakan materi IPA/IPAS yang dapat diintegrasikan dengan konteks sagu dan hutan sagu sebagai fondasi pengembangan bahan ajar responsif budaya dan berbasis translanguaging. Kegiatan dilaksanakan melalui diskusi kelompok terfokus bersama kepala sekolah, guru, tokoh adat, dan masyarakat, dilanjutkan dengan pendampingan analisis kurikulum berbasis ko-desain serta evaluasi dan refleksi. Hasil kegiatan berupa pemetaan 17 materi IPA/IPAS Fase A–C yang dipadankan dengan konteks sagu dan contoh pertanyaan pembelajaran, mencakup makhluk hidup, tumbuhan, pertumbuhan, habitat, sumber daya alam, pelestarian lingkungan, perubahan materi, gaya, energi, ekosistem, adaptasi, dan pemisahan campuran. Tiga dari delapan target program telah tercapai; modul, LKPD, glosarium, dan language scaffolding masih dalam proses, sedangkan implementasi kelas dan evaluasi literasi sains belum dilaksanakan. Pemetaan ini menunjukkan bahwa sagu dapat berfungsi sebagai konteks lintas materi dan menjadi dasar penyusunan modul serta uji coba terbimbing pada tahap berikutnya.
Copyrights © 2026