Fenomena fanatisme di kalangan penggemar K-Pop semakin meningkat seiring dengan berkembangnya penggunaan platform media sosial. Keterikatan yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya cyberbullying di antara anggota fandom, melalui perseteruan antar penggemar, komentar kasar, penghinaan, serta penyebaran informasi negatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pengaruh fanatisme terhadap tindakan cyberbullying di komunitas K-Pop. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah penggemar K-Pop yang aktif berinteraksi di media sosial seperti X (Twitter), Instagram, dan TikTok. Data dikumpulkan melalui pengamatan aktivitas di media sosial, serta dokumentasi berupa tangkapan layar dari komentar dan percakapan yang berhubungan dengan perundungan siber. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa tingkat fanatisme yang tinggi membuat penggemar memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap idola mereka, sehingga kritik yang ditujukan kepada idola dilihat sebagai ancaman terhadap identitas komunitas. Hal ini kemudian memicu perilaku agresif yang berupa serangan verbal baik secara langsung maupun tidak langsung di media sosial. Cyberbullying yang terjadi membawa dampak buruk bagi korban, seperti stres, kecemasan, rasa rendah diri, serta terganggunya hubungan sosial dalam komunitas fandom. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fanatisme yang tidak terkontrol dalam komunitas K-Pop dapat memicu perilaku cyberbullying dan menciptakan konflik sosial di ruang digital. Oleh karena itu, penting untuk mengambil kesadaran dan mengendalikan diri saat berinteraksi di media sosial agar hubungan antar penggemar tetap sehat dan harmonis.
Copyrights © 2026