Perkembangan teknologi digital mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor kuliner untuk mengadopsi service automation guna mempercepat dan menyederhanakan proses pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan service automation dalam meningkatkan efisiensi pelayanan pada Angkringan Solo Monggo Pinarak, sebuah UMKM kuliner tradisional Jawa yang berlokasi di Kota Batam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap pemilik dan pelanggan, observasi langsung, serta dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa service automation yang diterapkan pada usaha ini baru mencakup pembayaran nontunai berbasis QRIS, sementara sistem pemesanan digital dan aplikasi kasir (point of sale) belum diterapkan karena keterbatasan modal dan kapasitas teknis. Penerapan QRIS berkontribusi pada peningkatan efisiensi pelayanan yang ditandai dengan berkurangnya waktu transaksi dari rata-rata lima menit menjadi satu hingga dua menit per pelanggan, meningkatnya kapasitas pelayanan pada jam sibuk, serta tingginya proporsi pembayaran digital yang mencapai sekitar 80 persen dari total transaksi. Kendala yang ditemukan meliputi ketergantungan pada konektivitas internet, kesenjangan literasi digital pada segmen pelanggan tertentu, dan keterbatasan modal untuk mengembangkan digitalisasi lebih lanjut. Penelitian menyimpulkan bahwa service automation secara parsial telah terbukti relevan dalam meningkatkan efisiensi pelayanan UMKM kuliner berskala mikro, dan pengembangannya ke tahap yang lebih komprehensif memerlukan pendampingan teknis serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Copyrights © 2026