Ecotheological scholarship in Indonesia has largely located the ecological crisis in human attitudes and has called for ecological conversion and the care of creation. This study argued that such a framing overlooks the material form of the commodity itself and leaves the church standing outside the crisis it addresses. The research read Exodus 16–17 through an ecological hermeneutic combining suspicion and retrieval and placed the narrative in bidirectional correlation with the political ecology of oil palm in West Kalimantan. It found that manna is theologically defined by its perishability: hoarded manna bred worms, so that the gift structurally resisted accumulation, and the only legitimate storage was liturgical. Palm oil inverts this logic. Fresh fruit bunches deteriorate within hours, and the entire mill exists to deactivate that decay and convert perishable fruit into storable, tradeable crude palm oil. The mill is therefore an apparatus for abolishing the worm. Pastoral leadership in plantation zones consequently begins with confession rather than admonition. Abstrak Kajian ekoteologi di Indonesia sebagian besar menempatkan krisis ekologis pada sikap manusia dan menyerukan pertobatan ekologis serta pemeliharaan ciptaan. Penelitian ini berargumen bahwa pembingkaian demikian mengabaikan bentuk material komoditas dan menempatkan gereja di luar krisis yang dibahas. Penelitian ini membaca Keluaran 16–17 melalui hermeneutika ekologis yang memadukan kecurigaan dan pemulihan, lalu mengorelasikannya secara dua arah dengan ekologi politik perkebunan sawit di Kalimantan Barat. Hasilnya, manna secara teologis ditentukan justru oleh sifatnya yang mudah rusak: manna yang ditimbun berulat, sehingga pemberian itu secara struktural menolak akumulasi, dan satu-satunya penyimpanan yang sah adalah penyimpanan liturgis. Sawit membalik logika tersebut. Buah segar yang rusak dalam hitungan jam, dan seluruh pabrik ada untuk mematikan pembusukan itu serta mengubah buah yang fana menjadi minyak sawit mentah yang tahan lama dan dapat diperdagangkan. Pabrik dengan demikian merupakan aparatus peniadaan ulat. Kepemimpinan pastoral di zona perkebunan, karena itu, bermula dari pengakuan, bukan dari teguran.
Copyrights © 2024