Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENDIDIKAN EKOLOGIS BERBASIS KOMUNITAS DAYAK UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN RAMAH LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) RUNGAN Agus Surya; Urbanus Urbanus; Stephanus Prihadi; Setinawati Setinawati; Marlelo Marlelo; Esther Puput Kalpikasari; Satriani Harapandi; Febriyenie Febriyenie
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): NOPEMBER
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v8i2.5687

Abstract

ABSTRACTEnvironmental damage in the Rungan River Basin (DAS) in Central Kalimantan is caused by changes in land use, reduced forest cover, and the loss of local wisdom in environmental management. The indigenous Dayak communities inhabiting this area actually have strong ecological values, but these have not been fully integrated into environmental education and conservation efforts. This community service activity aims to increase the community's knowledge and awareness of environmental issues through a community-based ecological education approach and local wisdom. The method used is Participatory Action Research (PAR), which actively involves the community in the entire process, from problem identification and solution formulation to activity implementation and evaluation. The activities include group discussions, conservation training, participatory mapping, and the revitalization of traditional practices that support environmental conservation. The results showed a significant increase in the community's understanding of the importance of protecting the watershed ecosystem, the formation of environmental groups, and the growth of collective awareness of the importance of ecological practices based on local culture. In conclusion, Dayak community-based ecological education through the PAR approach has proven to be effective in reviving Dayak ecological values and building sustainable environmentally friendly behavior.Keywords: Ecological Education, Dayak Community, Local Wisdom, Rungan Watershed, EnvironmentABSTRAKKerusakan lingkungan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Rungan, Kalimantan Tengah, disebabkan oleh perubahan tata guna lahan, penurunan tutupan hutan, dan hilangnya praktik kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan. Komunitas adat Dayak yang mendiami kawasan ini sesungguhnya memiliki nilai-nilai ekologis yang kuat, namun belum sepenuhnya terintegrasi dalam upaya pendidikan dan pelestarian lingkungan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian ramah lingkungan masyarakat melalui pendekatan pendidikan ekologis berbasis komunitas dan kearifan lokal. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam seluruh proses yaitu identifikasi masalah, perumusan solusi, implementasi kegiatan, hingga evaluasi. Bentuk kegiatan meliputi diskusi kelompok, pelatihan konservasi, pemetaan partisipatif, serta revitalisasi praktik adat yang mendukung pelestarian lingkungan. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem DAS, terbentuknya kelompok peduli lingkungan, serta tumbuhnya kesadaran kolektif terhadap pentingnya praktik ekologis yang berbasis budaya lokal. Kesimpulannya, pendidikan ekologis berbasis komunitas Dayak melalui pendekatan PAR terbukti efektif dalam menghidupkan kembali nilai-nilai ekologis Dayak dan membangun perilaku ramah lingkungan yang berkelanjutan.Kata Kunci: Pendidikan Ekologis, Komunitas Dayak, Kearifan Lokal, DAS Rungan, Lingkungan Hidup
Yang berulat esok hari: Ekonomi manna, komoditas sawit, dan pertobatan kepemimpinan gereja di zona pendudukan korporasi Kalimantan Barat Welikinsi Welikinsi; Urbanus Urbanus; Friska Aprilianti
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1071

Abstract

Ecotheological scholarship in Indonesia has largely located the ecological crisis in human attitudes and has called for ecological conversion and the care of creation. This study argued that such a framing overlooks the material form of the commodity itself and leaves the church standing outside the crisis it addresses. The research read Exodus 16–17 through an ecological hermeneutic combining suspicion and retrieval and placed the narrative in bidirectional correlation with the political ecology of oil palm in West Kalimantan. It found that manna is theologically defined by its perishability: hoarded manna bred worms, so that the gift structurally resisted accumulation, and the only legitimate storage was liturgical. Palm oil inverts this logic. Fresh fruit bunches deteriorate within hours, and the entire mill exists to deactivate that decay and convert perishable fruit into storable, tradeable crude palm oil. The mill is therefore an apparatus for abolishing the worm. Pastoral leadership in plantation zones consequently begins with confession rather than admonition.   Abstrak Kajian ekoteologi di Indonesia sebagian besar menempatkan krisis ekologis pada sikap manusia dan menyerukan pertobatan ekologis serta pemeliharaan ciptaan. Penelitian ini berargumen bahwa pembingkaian demikian mengabaikan bentuk material komoditas dan menempatkan gereja di luar krisis yang dibahas. Penelitian ini membaca Keluaran 16–17 melalui hermeneutika ekologis yang memadukan kecurigaan dan pemulihan, lalu mengorelasikannya secara dua arah dengan ekologi politik perkebunan sawit di Kalimantan Barat. Hasilnya, manna secara teologis ditentukan justru oleh sifatnya yang mudah rusak: manna yang ditimbun berulat, sehingga pemberian itu secara struktural menolak akumulasi, dan satu-satunya penyimpanan yang sah adalah penyimpanan liturgis. Sawit membalik logika tersebut. Buah segar yang rusak dalam hitungan jam, dan seluruh pabrik ada untuk mematikan pembusukan itu serta mengubah buah yang fana menjadi minyak sawit mentah yang tahan lama dan dapat diperdagangkan. Pabrik dengan demikian merupakan aparatus peniadaan ulat. Kepemimpinan pastoral di zona perkebunan, karena itu, bermula dari pengakuan, bukan dari teguran.
Membangun Pendidikan Karakter Pelayanan Publik dalam Pembinaan Rohani Pada Markas Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah Urbanus Urbanus; Marlelo Marlelo; Alva Suyani
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 15 No. 3 Agustus (2026): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.5207

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pelaksanaan pembinaan rohani yang telah rutin dilakukan di lingkungan Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah, tetapi efektivitasnya dalam membentuk karakter pelayanan publik yang berlandaskan nilai spiritual dan etika kerja masih memerlukan kajian. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan pembinaan rohani, mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang dikembangkan, serta mengkaji kontribusinya terhadap integritas, empati, tanggung jawab, dan spiritualitas dalam pelayanan publik kepolisian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam terhadap lima informan yang terdiri atas pejabat pembina rohani, perwira pembina personel, dan anggota kepolisian yang aktif mengikuti kegiatan pembinaan. Data dianalisis melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan rohani di Mapolda Kalimantan Tengah dilaksanakan secara terstruktur dan rutin melalui ceramah keagamaan, kajian kitab suci, dan diskusi kelompok yang terintegrasi dalam jadwal dinas personel. Pembinaan tersebut mengembangkan nilai religiusitas, kejujuran, integritas, empati, tanggung jawab, disiplin, dan etika pelayanan. Nilai-nilai tersebut berkontribusi dalam membentuk kesadaran moral dan mendorong personel menerapkan perilaku yang lebih berintegritas, empatik, bertanggung jawab, dan spiritual dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Penelitian menyimpulkan bahwa pembinaan rohani merupakan instrumen strategis dalam penguatan karakter pelayanan publik kepolisian, meskipun efektivitasnya memerlukan konsistensi pelaksanaan, keteladanan pimpinan, pengawasan, dan dukungan budaya organisasi.