Suhu ruang Uninterruptible Power Supply (UPS) Main Power House (MPH) 2 Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang tidak terkendali berpotensi memicu thermal stress, mempercepat degradasi baterai VRLA, dan menurunkan keandalan suplai daya cadangan bagi Airfield Lighting (AFL) pada Precision Approach Runway Category I. Data logbook menunjukkan suhu ruang UPS mencapai 26–28 °C akibat gangguan pendingin yang terlambat terdeteksi karena pengawasan masih manual. Penelitian ini bertujuan merancang sistem monitoring suhu ruang UPS berbasis Internet of Things (IoT) yang bekerja real-time dan memberikan peringatan dini, serta mengetahui dampaknya terhadap kinerja peralatan. Metode yang digunakan adalah rancang bangun yang diawali Root Cause Analysis (RCA) 5 Whys, dilanjutkan perancangan perangkat keras, perangkat lunak, dan pengujian; metode ini dipilih karena akar masalah yang ditemukan menuntut solusi berupa alat. Sistem menggunakan sensor XY-MD02 (chip SHT20) dengan RS-485 Modbus RTU, gateway Modbus TCP/IP USR-TCP232-306, router, dan PC HMI berbasis Node-RED yang dilengkapi gauge, grafik tren, data logging .csv, alarm suara, dan notifikasi Telegram. Hasil pengujian menunjukkan akurasi pembacaan suhu rata-rata 99,5% terhadap termometer digital referensi dengan selisih maksimum 0,2 °C. Notifikasi Telegram terkirim pada seluruh skenario di atas ambang 25 °C (100%) dengan waktu respons 1–2 detik. Sistem ini menghilangkan jeda pengawasan manual dan mempercepat respons terhadap anomali suhu. Pengembangan selanjutnya disarankan menambahkan pemantauan kelembapan, pengaturan jeda notifikasi, dan analisis prediktif.
Copyrights © 2026