Jurnal Bindo Sastra
Vol 10, No 2 (2026): Jurnal Bindo Sastra

RELIGIUSITAS ISLAM DALAM ANTOLOGI PUISI KETIAKA TINTA BERSENANDUNG KARYA ARIK PURWANINGSIH

Al-Fitri Chika Sunaryat (Universitas Muhammadiyah Bengkulu)
Elyusra Elyusra (Universitas Muhammadiyah Bengkulu)
Man Hakim (Universitas Muhammadiyah Bengkulu)
Ira Yuniati (Universitas Muhammadiyah Bengkulu)



Article Info

Publish Date
06 Oct 2026

Abstract

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang tidak hanya menghadirkan nilai estetis, tetapi juga dapat memuat persoalan keagamaan sebagai media penyampaian pesan dan pengalaman spiritual. Salah satu karya yang memuat persoalan keislaman adalah antologi puisi Ketika Tinta Bersenandung karya Arik Purwaningsih. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dimensi religiusitas Islam yang terdapat dalam antologi puisi Ketika Tinta Bersenandung karya Arik Purwaningsih melalui pendekatan moral. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah antologi puisi Ketika Tinta Bersenandung karya Arik Purwaningsih, sedangkan data penelitian berupa larik dan bait yang memuat dimensi religiusitas Islam dalam 15 puisi yang dipilih. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan moral serta teori dimensi religiusitas yang meliputi dimensi keyakinan (ideologis), praktik agama (ritualistik), pengalaman (eksperiensial), pengetahuan agama (intelektual), dan pengamalan (konsekuensial). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antologi ini merepresentasikan kelima dimensi tersebut, dengan dimensi keyakinan (ideologis) yang didominasi keimanan kepada Allah SWT, dimensi praktik agama (ritualistik) yang berpusat pada ibadah salat, dimensi pengalaman (eksperiensial) yang kaya ungkapan batin spiritual, dimensi pengetahuan agama (intelektual) yang menghadirkan kisah para nabi dan tokoh Islam, serta dimensi pengamalan (konsekuensial) yang menggambarkan perilaku nyata sesuai ajaran Islam. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa antologi puisi Ketika Tinta Bersenandung karya Arik Purwaningsih memuat lima dimensi religiusitas Islam secara menyeluruh. Poetry is a form of literature that not only offers aesthetic value but can also incorporate religious themes as a medium for conveying messages and spiritual experiences. One such work addressing Islamic themes is the poetry anthology Ketika Tinta Bersenandung by Arik Purwaningsih. This study aims to describe the dimensions of Islamic religiosity found in the anthology through a moral approach. A qualitative descriptive method was employed. The primary data source was the anthology itself, while the specific data consisted of lines and stanzas reflecting dimensions of Islamic religiosity across fifteen selected poems. Data were collected using reading and note-taking techniques and subsequently analyzed using a moral approach alongside the theory of religiosity dimensions, which encompasses the ideological (belief), ritualistic (religious practice), experiential (spiritual experience), intellectual (religious knowledge), and consequential (lived practice) dimensions. The findings indicate that the anthology represents all five dimensions: the ideological dimension is dominated by faith in Allah SWT; the ritualistic dimension centers on the prayer (salat) ritual; the experiential dimension is rich in expressions of inner spirituality; the intellectual dimension presents stories of prophets and Islamic figures; and the consequential dimension depicts tangible behaviors aligned with Islamic teachings. In conclusion, the poetry anthology Ketika Tinta Bersenandung by Arik Purwaningsih comprehensively incorporates these five dimensions of Islamic religiosity.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

bisastra

Publisher

Subject

Education

Description

Journal Bindo Sastra is a journal of Indonesian Language and Literature Education of Faculty of Teacher Training and Education at Universitas Muhammadiyah Palembang. Journal Bindo Sastra includes articles of Indonesian Language and Literature Education and published in twice a year, march and ...