Sekolah inklusif berperan penting dalam memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik, termasuk murid yang berisiko mengalami gangguan emosi dan perilaku (GEP), tetapi guru sering kesulitan mengenali tanda-tandanya sejak awal karena selama ini mereka hanya mengandalkan pengamatan sehari-hari tanpa alat bantu yang jelas. Kegiatan pengabdian ini menghadirkan instrumen E-Motion GEP kepada guru-guru sekolah dasar inklusif binaan K3SD Kecamatan Sungai Geringging, Padang Pariaman, melalui sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan langsung. Untuk melihat apakah pemahaman guru benar-benar berubah, kami memberikan lima pertanyaan terbuka sebelum dan sesudah kegiatan, lalu membandingkan jawabannya satu per satu. Ada 20 pasang jawaban yang bisa dibandingkan langsung. Hasilnya menunjukkan perubahan yang signifikan, perubahan paling terlihat ada pada kemampuan guru membedakan antara identifikasi dan asesmen GEP, serta pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya pendidikan inklusif. Akan tetapi, tidak semua bagian berubah secara merata, pemahaman tentang kriteria teknis GEP dan dampaknya terhadap perkembangan murid masih beragam antarguru. Secara umum, kegiatan hilirisasi E-Motion GEP ini berhasil membuka wawasan guru tentang deteksi dini GEP di sekolah inklusif.
Copyrights © 2026