Biskuit merupakan produk pangan kering yang dibuat melalui proses pemanggangan adonan berbasis tepung terigu dengan penambahan lemak, bahan pangan lain, dan bahan tambahan pangan yang diizinkan. Ketergantungan industri biskuit terhadap tepung terigu mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal, seperti tepung talas dan tepung kacang hijau, sebagai alternatif. Penelitian ini bertujuan menentukan formulasi terbaik tepung talas dan tepung kacang hijau berdasarkan karakteristik fisikokimia biskuit. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima taraf perlakuan perbandingan tepung talas dan tepung kacang hijau, yaitu 4:0, 3:1, 1:1, 1:3, 0:4, dan 0:100 (g), dengan lima ulangan. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan formulasi berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar air, kadar protein, dan profil warna (L*, a*, b*), namun berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu tidak larut asam. Formulasi terbaik diperoleh pada perbandingan tepung talas dan tepung kacang hijau 3:1 dengan kadar air sebesar 4,67%, kadar abu tidak larut asam sebesar 0,063%, kadar protein 16,86%, nilai L* 46,22, nilai a* sebesar 2,65, nilai b* sebesar 9,20 dan nilai kesukaan keseleruhan 4,07 yang mengindikasikan ”lebih suka”.
Copyrights © 2026