Interaksi remaja di media sosial meningkatkan terjadinya cyberbullying yang berdampak terhadap kesehatan mental. Rendahnya kesadaran mengenai pentingnya komunikasi empatik menyebabkan berbagai bentuk komunikasi negatif, seperti ejekan, penghinaan, body shaming, dan ujaran kebencian, masih sering dianggap sebagai candaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya komunikasi empatik sebagai upaya mitigasi cyberbullying di media sosial. Kegiatan dilaksanakan pada 24 Juli 2026 di SMA Muhammadiyah 25 Pamulang dengan melibatkan sekitar 700 siswa. Metode yang digunakan adalah Participatory Learning and Action (PLA) yang dipadukan dengan pendekatan experiential learning melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, analisis kasus komentar media sosial, simulasi reflektif, dan pengenalan model DIGICARE (Consider, Acknowledge, Respect, Encourage). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif mampu meningkatkan keterlibatan peserta serta mendorong pemahaman mengenai dampak psikologis komunikasi yang tidak empatik. Simulasi reflektif menggunakan media kertas yang diremas membantu peserta memaknai bahwa kata-kata yang menyakitkan dapat meninggalkan luka emosional yang tidak mudah dipulihkan. Selain itu, model DIGICARE memberikan panduan praktis yang mudah dipahami dalam membangun komunikasi digital yang lebih bertanggung jawab. Program ini berpotensi menjadi alternatif model edukasi literasi digital dan penguatan karakter sebagai strategi preventif dalam menciptakan lingkungan digital yang aman, sehat, dan bebas dari cyberbullying
Copyrights © 2026