Abstrak: Penelitian ini bertujuan memahami dan menginterpretasikan aktivitas belajar peserta didik kelas V di Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta dalam konteks budaya komunitasnya. Secara khusus, penelitian ini mendeskripsikan aktivitas belajar melalui riset dan daur belajar, memahami pemaknaan peserta didik dan aktor pendamping, menjelaskan relasi pendampingan, serta menginterpretasikan aktivitas tersebut dalam perspektif pembelajaran mendalam dan teknologi pendidikan, khususnya fasilitasi belajar, teknologi lunak (soft technology), dan praktik etis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis etnografi pendidikan. Penelitian lapangan dilaksanakan di PKBM SALAM Yogyakarta pada 5 Januari sampai 18 Juni 2026, dengan peserta didik kelas V sebagai fokus empiris utama. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam semi-terstruktur, studi dokumentasi, catatan reflektif dan fasilitator, serta dokumen dan artefak pembelajaran. Partisipan meliputi peserta didik kelas V, fasilitator, orang tua, pendiri/pengelola, dan warga komunitas yang relevan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi teknik dan sumber, refleksivitas, deskripsi kontekstual, serta member checking. Data dianalisis secara interpretasional dan induktif melalui pengorganisasian, segmentasi, pengkodean, pengembangan kategori dan konstruk, perbandingan konstan, serta pembentukan tema dan pola. Hasil penelitian menunjukkan lima pola utama. Pertama, pengalaman nyata menjadi sumber kedalaman belajar ketika diolah melalui dokumentasi, analisis, refleksi, revisi tindakan, dan penerapan. Kedua, agensi anak bersifat kontekstual dan relasional karena minat, pilihan, dan kemandirian berkembang melalui dialog serta dukungan yang dinegosiasikan. Ketiga, daur belajar bekerja secara reflektif dan iteratif, sehingga mengalami, mengungkapkan, menganalisis, menyimpulkan, dan menerapkan tidak selalu berlangsung linear atau lengkap dalam satu peristiwa. Keempat, fasilitasi belajar terdistribusi melalui fasilitator, orang tua, teman sebaya, narasumber, lingkungan, dan komunitas. Kelima, kedalaman belajar bersifat bersyarat dan berbingkai etis, terutama terkait kualitas refleksi, proporsi bantuan, tanggung jawab, perbedaan kebutuhan, dan ruang aman untuk gagal. Dalam perspektif Teknologi Pendidikan, temuan menunjukkan facilitating learning melalui pengorganisasian proses dan sumber secara kontekstual, tidak terbatas pada teknologi digital. Proses riset dan Daur Belajar yang terorganisasi secara reflektif dapat didialogkan dengan konsep teknologi lunak (soft technology), meskipun statusnya tetap bersyarat dan berbingkai etis. SALAM tidak ditempatkan sebagai model universal. Disarankan agar fasilitator dan orang tua menjaga kualitas refleksi serta proporsi pendampingan, dan penelitian selanjutnya mengikuti pengalaman belajar anak secara lebih intensif dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026