Kelompok Tani Rukun Tani Jati di Desa Jatipayak, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, mengalami kekurangan air irigasi pada musim tanam ketiga akibat penurunan debit Waduk Bowo dan ketergantungan pada curah hujan di lahan tadah hujan. Kondisi ini menyebabkan hasil panen padi turun hingga separuh dari potensi normal dan memaksa petani beralih menanam tembakau saat kemarau. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menguatkan kemandirian pangan desa melalui optimalisasi sistem irigasi air tanah. Metode pelaksanaan menggabungkan pendekatan penelitian tindakan partisipatif (PAR) dan pengembangan masyarakat berbasis aset (ABCD), mencakup sosialisasi, pengeboran sumur, pelatihan operasional, pembentukan kelompok pengelola air, dan pelatihan pola tanam berbasis musim. Sumur bor berhasil dipasang pada kedalaman 65 meter dengan debit 2,8 liter per detik, mencukupi kebutuhan irigasi untuk area seluas 8 hingga 12 hektare. Kelompok pengelola air terbentuk dengan struktur kepengurusan dan sistem giliran irigasi yang berjalan. Musim tanam kedua diproyeksikan mencapai hasil panen maksimal setara musim tanam pertama, sementara sebagian lahan musim tanam ketiga berpotensi beralih kembali ke padi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penyediaan air saja belum cukup mengubah pola tanam secara menyeluruh; faktor ekonomi tembakau tetap memengaruhi keputusan petani.
Copyrights © 2026