Industri galangan kapal menuntut kapasitas fisik tinggi dengan paparan panas, kebisingan, dan risiko ergonomi yang besar, sehingga status gizi pekerja menjadi determinan penting bagi kelelahan kerja dan produktivitas. Observasi awal pada perusahaan mitra menunjukkan belum adanya program gizi kerja yang terintegrasi dalam Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), belum tersedianya kebijakan hidrasi pada area panas, serta belum pernah dilakukan skrining status gizi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan sikap pekerja mengenai gizi kerja berbasis beban kerja serta memetakan pola makan, tingkat kelelahan, dan kebutuhan intervensi gizi di lingkungan galangan. Metode yang digunakan adalah pendidikan masyarakat berupa penyuluhan interaktif dan diseminasi media edukasi, yang dilengkapi survei terstruktur terhadap 53 pekerja. Instrumen mencakup delapan butir pengetahuan, sepuluh butir sikap berskala Likert, tujuh butir perilaku makan dan hidrasi, lima butir beban kerja dan kelelahan, serta butir evaluasi kegiatan; data dianalisis secara deskriptif dan kualitatif. Hasil menunjukkan rerata skor pengetahuan 7,49 dari 8 (93,6%) dengan 86,8% peserta berkategori baik, serta sikap positif dengan rerata 39,49 dari 50. Namun perilaku belum sejalan: 45,3% peserta jarang mengonsumsi buah dan sayur, 24,5% tidak pernah sarapan, 37,7% mengandalkan minuman berkafein setiap hari, dan 52,8% merasakan kelelahan minimal tiga kali seminggu. Kegiatan dinilai bermanfaat dengan rerata evaluasi 3,93 dari 5. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi perlu ditindaklanjuti dengan dukungan struktural perusahaan agar pengetahuan yang baik dapat diterjemahkan menjadi perilaku gizi kerja yang sehat.
Copyrights © 2026