Kelompok tani merupakan instrumen utama pemberdayaan petani di Indonesia, namun kinerjanya bersifat multidimensional dan sangat bergantung pada ekosistem kelembagaan di sekitarnya. Studi ini menganalisis empat dimensi kinerja kelompok tani --- perencanaan kegiatan, ketaatan terhadap perjanjian, hubungan kelembagaan eksternal, dan penerapan teknologi --- serta pengaruhnya terhadap pendapatan petani jagung di Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo, sebuah wilayah sentra produksi jagung yang tidak memiliki Koperasi Tani (Koptan) maupun Koperasi Unit Desa (KUD). Penelitian ini menggunakan pendekatan survei deskriptif-eksplanatori dengan teknik purposive sampling terhadap 50 petani jagung yang tergabung dalam sembilan kelompok tani di sembilan desa. Data dianalisis menggunakan rasio skor aktual-ideal, analisis usahatani, dan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan fenomena asymmetric institutional performance: tiga dimensi kelembagaan internal berada pada kategori tinggi (94,67 persen; 90,00 persen; dan 96,00 persen), sementara dimensi hubungan kelembagaan eksternal hanya mencapai 45,33 persen (kategori rendah). Secara agregat, skor peran kelompok tani mencapai 81,50 persen (tinggi). Pendapatan rata-rata petani sebesar Rp13.996.183 per musim dengan R/C ratio 3,82. Uji regresi membuktikan peran kelompok tani berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani (B = 0,685; beta = 0,698; t = 6,760; p < 0,001; R2 = 0,488). Temuan ini mengkontestasi asumsi teori aksi kolektif bahwa kapasitas internal kelompok secara otomatis membangun konektivitas institusional eksternal. Ketiadaan mitra kelembagaan di level mezo merupakan hambatan struktural yang tidak dapat diatasi melalui penguatan kapasitas internal..
Copyrights © 2026