Penguatan identitas budaya bagi diaspora Indonesia di luar negeri memerlukan media edukasi berbasis teknologi yang adaptif dan interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberterimaan teknologi virtual tour edukasi kebudayaan dan pariwisata 38 provinsi di Indonesia pada komunitas diaspora di Malaysia dengan menggunakan kerangka Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) sebagai lensa analisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-observasional dengan teknik purposive sampling, yang melibatkan 35 orang perempuan Indonesia usia produktif beragama Islam yang berdomisili di Malaysia. Pengumpulan data dilakukan melalui sesi simulasi terpandu, pencatatan observatif, dan umpan balik evaluatif. Seluruh masukan kritis responden selama simulasi penggunaan aplikasi dikategorikan sebagai kelemahan sistem, sedangkan fitur tanpa keluhan diasumsikan diterima secara implisit. Hasil penelitian mengidentifikasi lima kendala utama: (1) lamanya waktu pemuatan data (loading), (2) ketiadaan konten tempat ibadah bersejarah, (3) kurangnya informasi aksesibilitas pariwisata, (4) antarmuka yang kurang interaktif, dan (5) tampilan visual yang kurang menarik. Kelemahan visual dan interaktivitas ini berdampak langsung pada penurunan efektivitas edukasi budaya bagi anak-anak. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, dirumuskan empat strategi perbaikan iteratif: (1) penyesuaian visual antarmuka, (2) kompresi resolusi gambar untuk mempercepat pemuatan data, (3) penambahan hotspot interaktif pada media virtual tour, serta (4) penyediaan moda offline untuk aksesibilitas luring. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara performa teknis dan motivasi hedonis dalam pengembangan media edukasi kebudayaan bagi masyarakat diaspora.
Copyrights © 2026