Sektor konstruksi menyumbang hampir 40% emisi gas rumah kaca global, sehingga pemilihan material bangunan yang tepat menjadi elemen krusial dalam agenda keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penggunaan bata ringan Autoclaved Aerated Concrete (AAC) terhadap efisiensi energi dan keberlanjutan konstruksi, menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus multi-situs, melalui wawancara semi-struktural, observasi lapangan pada proyek aktif di Kota Batam, serta studi dokumentasi Bill of Quantity, simulasi energi, dan sertifikat uji laboratorium. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, member checking, dan audit trail. Sertifikat uji laboratorium mencatat konduktivitas termal AAC sebesar 0,16-0,20 W/mK. Laporan simulasi energi menunjukkan konsumsi energi sistem HVAC sebesar 118.400 kWh/tahun pada dinding AAC dibandingkan 146.700 kWh/tahun pada dinding bata merah, atau menurun sekitar 15-25% sesuai kriteria Permen PUPR No. 21 Tahun 2021. Data BoQ mencatat berat dinding 120 kg/m² pada AAC dibandingkan 250 kg/m² pada bata merah, sehingga beban mati struktural berkurang sekitar 60%, sedangkan observasi lapangan mencatat sisa material sebesar 4,8 % dari volume pekerjaan dinding. Sebagai pembanding, literatur melaporkan penurunan konsumsi energi hingga 35% dan limbah AAC di bawah 5%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AAC merupakan material strategis dalam mewujudkan konstruksi rendah karbon di Indonesia sebagaimana diamanatkan Permen PUPR No. 9 Tahun 2021.
Copyrights © 2026