Pesantren tidak hanya menyampaikan pengetahuan keislaman, tetapi juga membentuk kapasitas kepemimpinan santri, sedangkan kajian moderasi beragama selama ini lebih banyak menempatkan moderasi sebagai sikap atau strategi pencegahan radikalisme. Penelitian ini bertujuan menjelaskan nilai moderasi yang diinternalisasikan, tahap dan strategi internalisasinya, serta keterkaitannya dengan pembentukan kepemimpinan spiritual santri di Pondok Pesantren Nurussalam Sidogede. Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus tunggal ini menggunakan wawancara semi-terstruktur terhadap empat informan yang dipilih secara purposif, yaitu pimpinan pesantren, pengurus senior/alumni, ustazah pengajar, dan ketua organisasi santri, serta didukung observasi dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa moderasi diungkapkan melalui kosakata moral pesantren, antara lain tawassuth, tawazun, i‘tidal, tasamuh, ukhuwah, musyawarah, dan khidmah. Internalisasi berlangsung melalui transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi dengan dukungan pembelajaran, keteladanan, pembiasaan, organisasi santri, dan pengabdian. Praktik kepemimpinan yang tampak mencakup pengambilan keputusan melalui musyawarah, penyelesaian konflik tanpa kekerasan, pertanggungjawaban, kepedulian terhadap anggota, dan kaderisasi bertahap. Secara teoretis, penelitian ini mengajukan proposisi kontekstual, bukan model kausal yang telah diuji. Secara praktis, pengelola pesantren dapat memasukkan capaian kepemimpinan yang dapat diamati ke dalam pembinaan dan evaluasi santri. Keterbatasan penelitian terletak pada satu pesantren dan empat informan, sehingga studi komparatif diperlukan untuk menguji keteralihan temuan.
Copyrights © 2026