AbstractHeavy traffic flows at unsignalized intersections can undermine operational efficiency, often triggering prolonged delays and vehicle accumulation during rush hours. This research examines the operational condition of the unsignalized T-junction connecting Jalan A. Syairani and Jalan Sarang Halang in Tanah Laut Regency, employing the 1997 MKJI as its analytical framework. Primary information was obtained through on-site surveys of intersection geometry and peak-period traffic movements, supplemented by secondary data. The assessment covered intersection capacity, degree of saturation, delay, and queue likelihood in accordance with MKJI 1997. Findings show that peak-hour demand reached 1,085 pcu/h, exceeding the available capacity of 987.878 pcu/h and producing a saturation ratio of 1.098, classified as LOS F. The recorded intersection delay was 25.245 s/pcu, while the estimated queue probability varied between 49% and 97%, reflecting substantial queuing potential, particularly along the minor road approach. These results suggest that the junction’s present carrying capability cannot adequately accommodate peak-period demand. Accordingly, geometric adjustments, traffic-flow regulation, and further assessment of suitable intersection-control alternatives are proposed to restore more effective operating conditions.Keywords: Capacity; Delay; Degree of Saturation; Queue probability; Unsignalized IntersectionAbstrakPeningkatan volume lalu lintas pada simpang tak bersinyal dapat menurunkan kinerja simpang yang ditandai dengan meningkatnya tundaan dan antrean kendaraan pada jam puncak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja Simpang Tiga Jalan A. Syairani–Jalan Sarang Halang Kabupaten Tanah Laut menggunakan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. Data primer diperoleh melalui survei lapangan yang meliputi kondisi geometrik simpang dan volume lalu lintas pada jam puncak, sedangkan data sekunder digunakan sebagai data pendukung penelitian. Analisis dilakukan dengan menghitung kapasitas simpang, derajat kejenuhan, tundaan, dan peluang antrean berdasarkan prosedur MKJI 1997. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume lalu lintas pada jam puncak sebesar 1.085 smp/jam, sedangkan kapasitas simpang sebesar 987,878 smp/jam, sehingga diperoleh derajat kejenuhan (DS) sebesar 1,098 yang termasuk Tingkat Pelayanan (LOS) F. Nilai tundaan simpang total sebesar 25,245 detik/smp, sedangkan peluang antrean berada pada kisaran 49%–97%, yang menunjukkan tingginya potensi antrean kendaraan terutama pada pendekat jalan minor. Temuan ini menunjukkan bahwa kapasitas simpang yang ada sudah tidak mampu melayani arus lalu lintas pada jam puncak secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kinerja melalui perbaikan geometrik, pengaturan manajemen lalu lintas, atau evaluasi penerapan pengendalian simpang sesuai dengan perkembangan volume lalu lintas di masa mendatang.Kata Kunci: Kapastitas; Tundaan; Derajat Kejenuhan; Peluang Antrean; Simpang Tak Bersinyal
Copyrights © 2026