Tulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana musik tradisi ditempatkan dalam praktik hibrid musikal dalam konteks arus global saat ini, melalui studi kasus hibrid musikal oleh komponis muda di Yogyakarta. Analisis dilakukan berdasarkan pada data yang diperoleh dari pemahaman subjektif partisipan. Transkrip wawancara dan catatan lapangan kemudian diidentifikasi ke dalam unit-unit makna. Unit-unit makna dilabeli dan dikelompokan ke dalam kategori dan tema yang lebih besar untuk dilihat hubungan sebab akibat dan interelasinya. Hibrid musikal terjadi sebagai akibat dari lingkungan yang menyediakan referensi jenis tradisi musik yang variatif. Kondisi semacam inilah yang mendukung para partisipan-komponis untuk tidak puas hanya pada satu jenis musik saja. Dalam studi ini ditemui bahwa hibrid sebagai strategi budaya untuk bersaing dengan pihak yang dominan justru malah lebih mencerminkan hubungan yang tidak seimbang antara musik tradisi lokal dengan musik Pop dan musik tradisi Barat. Karena dari hibrid yang dilakukan partisipan, budaya lokal hanya berfungsi sebagai medium atau material artistik semata sedangkan musik Pop atau musik tradisi Barat berstatus lebih dari sekedar material, namun juga sebagai kerangka atau jalan yang mendikte realisasi musikal mereka. Dengan kata lain, hibrid budaya justru semakin menegaskan kekuatan pihak dominan. Dari studi ini dapat kita lihat bahwa hibrid musik tidak dilakukan dengan maksud pelestarian, namun sebagai cara untuk keluar dari bentuk yang d. Sehingga keliru jika kita melihat bahwa dengan praktik hibrid, pelsetarian budaya dapat berjalan.
Copyrights © 2018