cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Share : Social Work Journal
ISSN : 23390042     EISSN : 25281577     DOI : -
Core Subject : Social,
Share Social Work Journal adalah jurnal yang memuat hasil-hasil penelitian lapangan dan atau pustaka mengenai isu-isu kesejahteraan sosial, di tingkat nasional, regional dan internasional. Share Social Work Journal adalah tempat publikasi yang tepat sebagai sumber referensi dan juga sebagai sumber diskusi topik-topik yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial karena telah ber ISSN printed dan elektronik. ISSN p: 2339-0042 ISSN e: 2528-1577
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal" : 30 Documents clear
PENERAPAN METODE ORIENTASI MASA DEPAN (OMD) PADA REMAJA YANG MENGALAMI KEBINGUNGAN IDENTITAS (MENENTUKAN TUJUAN HIDUP) Hadianti, Salsabila Wahyu; Krisnani, Hetty
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.014 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13821

Abstract

Secara biologis maupun kultural masa remaja dipandang sebagai akhir masa anak – anak dan merupakan pintu masuk menuju masa dewasa. Dalam tahap ini, seorang remaja tentunya diharapkan sudah dapat merumusukan minat mereka dalam hal – hal tertentu misalnya seperti pilihan karier (melanjutkan pendidikan atau mengikuti pelatihan pengembangan keterampilan), pilihan untuk menikah ataupun mengurus keluarga. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Erikson Isu psikososial yang dialami pada tahap ini yakni terkait identitas versus kebingungan peran. Walaupun seyogyanya pada tahap ini remaja diharapkan telah memiliki gambaran terkait dirinya, namun Erikson juga menjelaskan bahwa dalam tahap ini masih terdapat sebagian remaja yang menghadapi kesulitan besar dalam mendefinisikan atau mengambil peran ataupun keyakinan tertentu dalam hidupnya yang tentunya hal ini memberikan dampak pada tugas perkembangan selanjutnya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, metode Orientasi masa depan (OMD) dirasa cocok untuk membantu remaja dalam menentukan tujuan masa depannya. Hal ini dikarenakan, OMD merupakan upaya antisipasi terhadap masa depan. Dalam hal ini, individu mulai memikirkan kebutuhan tentang masa depan secara sungguh-sungguh, memberikan perhatian kepada yang besar terhadap berbagai lapangan kehidupan yang akan dijalaninya dimasa yang akan datang.
DEFINISI KEKERASAN TERHADAP ISTRI DI KALANGAN MAHASISWA KESEJAHTERAAN SOSIAL Rusyidi, Binahayati
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.041 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13806

Abstract

Kekerasan terhadap istri merupakan bentuk paling umum dari tindak kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan di Indonesia. Pemahaman mengenai definisi kekerasan terhadap istri merupakan langkah pertama penanganan masalah karena pengakuan terhadap perilaku yang termasuk sebagai tindak kekerasan akan mempengaruhi bagaimana masyarakat merespon korban dan pelaku.Studi ini ini mendeskripsikan dan menguji faktor-fakrot yang berasosiasi dengan sikap mahasiswa sarjana program studi kesejahteraan sosial mengenai definisi tindak kekerasan terhadap istri berdasarkan perspektif sosial demografis dan sosial budaya. Pemilihan sampel dilakukan secara non-random menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui survey terhadap 294 mahasiswa kesejahteraan sosial dari 2 (dua) universitas di provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Barat yang dilaksanakan pada akhir tahun 2016. Analisa data dilakukan dengan teknik simple regression. Studi menemukan bahwa para mahasiswa umumnya melaporkan persetujuan yang lebih besar untuk mengkategorikan kekerasan fisik sebagai bentuk kekerasan terhadap istri. Sebaliknya, mereka cenderung kurang memandang kekerasan non-fisik sebagai perilaku kekerasan. Gender, sikap terhadap peran jender, dan tipe universitas merupakan faktor signifikan yang berasosiasi dengan sikap terhadap tindak kekerasan terhadap istri. Implikasi dari temuan temuan studi ini didiskusikan dengan mengaitkan peran lembaga pendidikan dalam mempengaruhi sikap mahasiswa.
PENGANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PENGEMBANGAN ASET KOMUNITAS Fedryansyah, Muhammad; Resnawaty, Risna
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.184 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13828

Abstract

Penanggulangan kemiskinan merupakan salah satu tujuan utama dalam pembangunan yang dilakukan di daerah. Terkait dengan hal tersebut, orientasi pembangunan yang bergeser dari top down menjadi bottom up juga menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam merancang berbagai program pembangunan. Begitupula yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Sumedang, yang berupaya untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya. Dalam penelitian ini, akan difokuskan pada penanggulangan kemiskinan melalui pengembangan asset komunitas dengan mengambil kasus di wilayah Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Pengembangan asset komunitas merupakan salah satu kajian dalam bidang ilmu kesejahteraan sosial, terutama dalam kajian pengembangan masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan melakukan analisis berdasarkan interpretasi dari data primer maupun sekunder. Proposisi dari penelitian ini adalah penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan melalui pengembangan asset komunitas yang ada di masyarakat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari dari lima tipe asset komunitas (fisik, sumberdaya manusia, sosial, lingkungan, dan finansial) yang ada di Kecamatan Jatinangor, asset yang dapat dikembangkan adalah asset fisik, asset sumber daya manusia, dan asset sosial. Dengan demikian, pemerintah daerah Kabupaten Sumedang dapat merancang program pembangunan dengan memanfaatkan asset yang sudah ada tersebut (fisik, sumber daya manusia, dan sosial).
POTRET ORANG MISKIN DARI PERSPEKTIF KEKUATAN Ishartono, Ishartono; Rusyidi, Binahayati; Raharjo, Santoso Tri
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.598 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13816

Abstract

Tesis ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kemiskinan yang masih saja menjadi beban dunia. Sudah banyak upaya untuk menanggulanginya. Sudah banyak penelitian untuk mengkajinya. Namun upaya dan kajian itu pada umumnya memandang kemiskinan dari perspektif masalah. Tesis ini mengkaji kemiskinan dari perspektif kekuatan. Perspektif ini meyakini bahwa setiap individu mempunyai kekuatan. Penjabaran perspektif kekuatan dalam tesis ini menggunakan konsep yang dikembangkan oleh Clay Graybeal yaitu Resources, Options, Possibilities, Exceptions, dan Solutions (ROPES).Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan ini digunakan karena penggalian aspek-aspek kekuatan tersebut (ROPES) memerlukan deskripsi yang mendalam. Subyek penelitian ini adalah orang miskin yang menjadi peserta Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Informannya adalah 4 orang peserta PKH dan 3 orang tokoh masyarakat yang ditentukan secara purposive. Teknik pengumpulan yang digunakan adalah wawancara mendalam.
MASALAH SOSIAL DAN WIRAUSAHA SOSIAL Taftazani, Budi Muhammad
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.407 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13822

Abstract

Memahami masalah sosial sangat penting bagi mereka yang bergerak di bidang social entrepreneurs. Dengan memahami keluasan serta kedalaman masalah, maka kita akan terbantumenemukan peluang-peluang untuk aksi penanganan baik yang sifatnya pencegahan, penyelesaian, atau pengembangan. Penyebab masalah sosial sangatlah kompleks merentang dari dimensi yang terkait dengan pola tingkah laku, pola interaksi, perubahan dan konflik nilai, sampai yang diakibatkan oleh situasi ketidakadilan, pengabaian terhadap hak-hak asasi manusia, serta kerusakan ekologis yang parah.Ditengah berbagai masalah sosial yang semakin kompleks baik dari penyebab maupun akibatnya, diharapakan muncul para wirausahawan sosial yang mampu menyumbangkan ide dan aksi untuk masalah-masalah yang selama ini dianggap tidak terpecahkan. Dibutuhkan rumusan-rumusan model kreatif dalam upaya pemecahan masalah sosial yang sebelumnya hanya didekati dengan cara-cara konvensional yang dicirikan dengan penerapan model-model kuratif, orientasi proyek jangka pendek, pengawasan implementsi yang lemah sehingga penuh ketidakkonsistenan antara tatanan ide dengan implementasi, dan tidak mampu memunculkan kesadaran kolektif masyarakat bahwa mereka adalah aktor utama perubahan. Sering pula terjadi pihak-pihak yang memiliki otoritas baru melakukan upaya pencegahan atau penanganan masalah setelah terjadi kerusakan yang signifikan.Bagi para wirausahawan sosial, keadaan seperti demikian sebaiknya dilihat sebagai peluang untuk menciptakan model-model jitu diluar pendekatan biasa yang tidak menyelesaikan masalah atau bahkan hanya seolah-olah menyelesaiikan masalah. Saat ini banyak masalah sosial di Indonesia yang perlu menjadi perhatian baik itu yang bersumber dari disfungsi sosial individu, keluarga, atau disfungsi kelembagaan dan organisasi termasuk lembaga-lembaga pelayanan sosial dan publik.
FAKTOR PENYEBAB TERGABUNGNYA REMAJA KOTA BANDUNG DALAM KOMUNITAS KENAKALAN REMEJA Dewi, Yustika Tri; S., Meilanny Budiarti; Humaedi, Sahadi; Wibhawa, Budhi
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.109 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13807

Abstract

Kenakalan remaja merupakan hal yang tidak jarang kita temui saat ini. Kenakalan remaja pun tak urung timbul dari sebuah komunitas remaja. Tawuran antar pelajar dari komunitas-komunitas di sekolah, ugal-ugalan di jalan raya, berpesta minuman keras adalah sebagian contoh dari tindakan kenakalan remaja dalam komunitas. Kenakalan remaja tersebut dapat terjadi dari pengaruh suatu komunitas. Remaja di Kota Bandung sudah sangat akrab dengan budaya yang mengharuskan seorang remaja masuk ke dalam komunitas. Akibatnya, Kota Bandung terkenal dengan komunitas antar sekolah untuk para remaja, komunitas geng motor dan komunitas lainnya. Sayangnya banyak pandangan negatif karena biasanya komunitas remaja sering melakukan tindak kenakalan dan tak jarang meresahkan lingkungan serta masyarakat sekitar. Padahal sudah cukup diakui secara global adanya tindak kenakalan remaja disebabkan faktor-faktor tertentu. Jika sudah banyak penelitian yang mencari faktor penyebab adanya tindak kenakalan remaja, penelitian ini lebih memfokuskan kepada faktor faktor penyabab masuknya remaja dalam komunitas yang sering melakukan tindak kenakalan remaja. Dengan cara observasi langsung dan wawancara mendalam dengan anggota komunitas yang terkenal sering melakukan tindak kenakalan, diharakpakn penelitian ini dapat menyimpulkan fakor penyebab yang mendukung remaja bergabung. Faktor penyebab remaja bergabung dalam sebuah komunitas kenakalan remaja, diyakini mempunyai dua faktor penentu yaitu faktor pendorong dan faktor penarik.
UPAYA PENCEGAHAN HIV/AIDS PADA KALANGAN REMAJA DI KOTA BANDUNG Santoso, Meilanny Budiarti; Apsari, Nurliana Cipta; Nabila, Annisa
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.612 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13817

Abstract

Masalah HIV/AIDS menjadi masalah kontemporer yang berkaitan dengan perilaku berisiko manusia, karena masalah ini bukanlah masalah kesehatan semata. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) termasuk populasi yang rentan bermasalah secara sosial, ekonomi, budaya dan politik. Sejak tahun 2005, sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS yang merupakan salah satu wujud upaya pencegahan HIV/AIDS, sebetulnya sudah mulai masuk ke setiap SMA, namun, karena HIV/AIDS banyak menyerang usia produktif, termasuk pelajar, sehingga sosialisasi diharapkan tidak hanya dilakukan pada para pelajar SMA saja, melainkan juga dilakukan pada para pelajar di tingkat pendidikan yang lebih rendah lagi, yaitu SMP dengan harapan dapat mencegah lebih banyak remaja yang terlibat dalam perilaku seksual yang beresiko dan penyalahgunaan narkoba.Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatory survey. Populasi dari penelitian ini adalah siswa-siswi SMPN 35 Bandung yang telah mendapat program HEBAT secara penuh 2 semester.Program HEBAT! menjadi pelopor program pencegahan HIV/AIDS yang diperuntukkan bagi remaja di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Program HEBAT! berbentuk kurikulum (mata pelajaran) yang berlangsung selama 2 semester di kelas VIII SMP. Sejak pertengahan tahun 2010, program HEBAT hingga saat ini telah berlangsung di 33 SMP di Kota Bandung. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini, terdapat pengaruh antara pelaksanaan program HEBAT terhadap sikap remaja. Pendidikan yang diberikan pada remaja dalam program HEBAT adalah sebagai langkah untuk  meningkatkan pengetahuan remaja terkait bahaya narkoba dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini agar mereka terhindar dari perilaku berisiko HIV/AIDS
PRAKTIK BEKERJA BERSAMA KELOMPOK UNTUK PENGUATAN PROGRAM PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN Wibowo, Hery
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.589 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13823

Abstract

Metode bekerja bersama kelompok (social group work) pada konteks pekerjaan sosial adalah sebuah praktik yang bertujuan untuk meningkatkan keberfungsian sosial, yang dilakukan melalui media kelompok. Sejauh ini, praktik bekerja bersama kelompok lebih banyak dikenal untuk tujuan pertolongan klien yang memiliki masalah khusus seperti ketergantungan narkoba, depresi, konsep diri rendah dan sebagainya. Hal ini wajar, mengingat praktik bekerja bersama kelompok memang memiliki sejumlah keunggulan, yaitu antara lain penggunaan prinsip-prinsip universalitas, rekonstruksi kognitif, penerimaan, serta alturisme, dimana klien cenderung merasa nyaman dan diterima, sehingga mampu pada akhirnya mengungkapkan permasalahan yang dialaminya, serta bahkan mampu memberikan saran-saran kepada anggota kelompok lainnya.Makalah ini akan mengupas lebih dalam tentang praktik bekerja bersama kelompok (social group work) dalam kontek pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, baik di perusahaan, organisasi swasta maupun aparatur sipil negara. Prinsipnya, tulisan ini juga dimaksudkan untuk membedah tujuan pengembangan dari praktik bekerja bersama kelompok, disamping tujuan pengobatan/penyembuhan. Maka, secara lebih jauh akan dikupas beragam praktik bekerja bersama kelompok yang dikhususkan untuk tujuan pengembangan sikap, etos kerja, semangat untuk berprestasi maupun tekad untuk menampilkan yang terbaik pada bidang pekerjaan.
HUMAN TRAFFICKING DI NUSA TENGGARA TIMUR Daniel, Everd Scor Rider; Mulyana, Nandang; Wibhawa, Budhi
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.366 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13808

Abstract

Gobalisasi yang terjadi di dunia ini menjadikan setiap Negara seolah-olah tidak mempunyai batas lagi. Hal ini disebabkan karena adanya transformasi yang begitu cepat khususnya dalam aspek komunikasi. Globalisasi tidak hanya mempunyai dampat yang positif, tetapi juga berdampak negative, termasuk dalam hal kejahatan. Banyaknya kejahatan yang terjadi saat ini dikarenakan adanya globalisasi.Salah satu bentuk kejatahan yang disebabkan karena adanya globalisasi adalah human trafficking. Kejataha ini terjadi tidak hanya dalam satu wilayah suatu Negara akan tetapi sudah melewati batas negara. Kejahatan ini melibatkan jaringan internasional. Dengan demikian human trafficking sangat sulit untuk dilacak.Untuk mengatasi kejahatan human trafficking ini tentunya tidak hanya memberantas mafia yang ada. Intervensi yang paling mudah untuk melawan human trafficking adalah dengan mengatasi factor penyebab masyarakat mudah untuk dijadikan obyek human trafficking. Banyak factor yang menyebabkan masyarakt mudah terjerat human trafficking. Akan tetapi semua factor tersebut bermuara pada masalah kemiskinan. Hal ini terjadi karena human trafficking lebih sering terjadi pada masyarakat yang relative miskin.
PERAN PEMBIMBING KEMASYARAKATAN DALAM PENANGANAN ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM OLEH BALAI PEMASYARAKATAN Santoso, Meilanny Budiarti; Darwis, Rudi Saprudin
Share : Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.251 KB) | DOI: 10.24198/share.v7i1.13819

Abstract

Penanganan Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum (ABH) tidak dapat dilakukan seperti terhadap orang dewasa. Balai Pemasyarakatan (BAPAS), melalui peran Pendamping Kemasyarakatan yang dimilikinya, berperan penting dalam proses peradilan ABH sesuai dengan peraturan perundanganundangan yang berlaku. Pada tulisan ini akan dipaparkan pelaksanaan peran dari Pendamping Kemasyarakatan (PK) dalam menjalankan fungsi BAPAS pada penanganan ABH. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif guna mencermati perilaku, tindakan, lingkungan sosial serta aspek lainnya yang terkait dengan pelaksanaan peran (PK) pada setiap tahap dalam proses peradilan yang dijalani oleh ABH, yaitu pada tahap sebelum pengadila (pra-adjudikasi), tahap pengadilan (adjudikasi), dan tahap setelah pengadilan (post-adjudukasi).Hasil penelitian menunjukan bahwa PK tidak dapat melakukan pendampingan secara penuh sebagaimana mestinya kepada ABH yang menjalani proses peradilan. Hal ini antara lain disebabkan oleh keterbatasan jumlah PK yang dimiliki BAPAS sehingga seorang PK harus mendampingi beberapa orang ABH yang seringkali lokasinya berjauhan dengan waktu yang terbatas. Meskipun demikian, fungsi BAPAS dalam proses penanganan ABH dapat dijalankan sesuai tahapan yang ditetapkan. BAPAS dapat menjalankan fungsi sebagai lembaga yang menangani ABH berbeda dengan cara penanganan orang dewasa, sesuai perundangan-undangan.

Page 1 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): Share : Social Work Journal Vol 15, No 1 (2025): Share : Social Work Journal Vol 14, No 2 (2024): Share : Social Work Journal Vol 14, No 1 (2024): Share : Social Work Journal Vol 13, No 2 (2023): Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal Vol 9, No 2 (2019): Share: Social Work Journal Vol 9, No 1 (2019): Share: Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal More Issue