cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 35 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi" : 35 Documents clear
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN ERUPSI GIGI PERMANEN SISWA SD NEGERI 70 MANADO Lantu, Virginia A. R.; Kawengian, Shirley E. S.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6849

Abstract

Abstract: Tooth eruption is defined as movements of the teeth to oral cavity or as a process appearance of the teeth which begins during teeth inside the jaws. It was a different variation to each childre’s. Nutritional status is one of important that play role during tooth eruption process. Related to another research that has found children with normal category of nutritional status have a normal process of tooth eruption. Instead, there was interference to children’s with a malnutrition status. This study aimed to analyze the relation between nutritional status and tooth eruption of children in SDN 70 Manado. Total population of this study was taken from 1st up to 6th grades within the age group 6-12 years old. Samples were 83 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Anthropomentric and visual checking was used for measurement of nutritional status and permanent tooth eruption status. The results showed that most respondents had normal height and weight as well as normal process of permanent tooth eruption. Children who had malnutrition status were also had failure in permanent tooth eruption. The chi-square test showed a significant relation between nutritional status and permanent tooth eruption in SDN 70 Manado.Keywords: nutritional status, permanent tooth eruptionAbstrak: Erupsi gigi didefinisikan sebagai pergerakan atau proses munculnya gigi ke arah rongga mulut yang dimulai sejak gigi berada di dalam tulang alveolar dan merupakan proses yang bervariasi pada setiap anak. Status gizi merupakan salah satu faktor yang berperan penting pada pertumbuhan dan perkembangan gigi termasuk tahapan erupsi gigi. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu ditemukan bahwa anak-anak dengan status gizi baik, proses erupsi gigi permanen umumnya berjalan normal sedangkan anak-anak dengan status gizi kurang baik beresiko mengalami gangguan pada proses erupsi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara status gizi dengan erupsi gigi permanen siswa SD Negeri 70 Manado. Populasi pada penelitian ini yakni siswa kelas I hingga kelas VI yang berusia 6 – 12 tahun, Sampel penelitian ialah seluruh anggota populasi dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan jumlah 83 sampel dengan menggunakan metode total sampling. Data diambil melalui pengukuran antropometri dan pemeriksaan visual pada rongga mulut. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan sebagian besar responden memiliki tinggi dan berat badan normal sesuai usianya, diikuti oleh yang berstatus gizi kurus, obesitas dan gemuk. Status erupsi gigi permanen sebagian besar menunjukkan telah erupsi. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan erupsi gigi permanen siswa SD Negeri 70 Manado.Kata kunci: status gizi, erupsi gigi permanen
STATUS KEBERSIHAN MULUT DAN PERILAKU MENYIKAT GIGI ANAK SD NEGERI 1 MALALAYANG Gopdianto, Randy; Rattu, A. J. M; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6457

Abstract

Abstract: Mouth is an ideal place for bacteria growth because of temperature, moisture and leftovers. Dental and oral hygiene is determined by leftovers (food debris), plaque, calculus and stains on the surface of the tooth. In an effort to maintain dental and oral hygiene, preferable given since elementary school age because that age is an ideal momentto train the child’s ability to brush teeth. The purpose of this research is to know the status of dental and oral hygiene according to the habit of brushing teeth before going to bed at night in SD Negeri 1 Malalayang. Method of this study was descriptive study with cross-sectional design. Sample was taken by giving a questionnaire to find out the behavior of brushing teeth and do the OHIS examination according to Green and Vermillion to the students of class IV, V dan VI. Result of the study showed, the majority of respondents were female 35 people (64%) and male 20 people (36%), based on age of the respondents are aged 8 years 7 people (13%), 9 years old 12 people (22%), 10 years old 25 people (45%) and 11 years old there were 11 people (20%). Based on the assement of the examination OHIS, 35 respondents has goog result (64%), 15 respondents had moderate result (27%) and 5 respondents had poor result (20%). Conclusion: Students in grade IV, V and VI have good dental and oral hygiene.Keywords: oral hygiene status, brushing teeth behaviorAbstrak: Mulut merupakan suatu tempat yang ideal bagi perkembangan bakteri karena temperatur, kelembapan dan sisa makanan. Kebersihan gigi dan mulut ditentukan oleh sisa makanan (food debris), plak, kalkulus, dan noda (stain) pada permukaan gigi. Dalam usaha menjaga kebersihan mulut sebaiknya diberikan sejak usia sekolah dasar karena usia tersebut merupakan saat yang ideal untuk melatih kemampuan anak termasuk menyikat gigi. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui status kebersihan mulut menurut kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur malam pada anak di SD Negeri 1 Malalayang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan yang digunakan ialah cross sectional. Pengambilan sampel dengan cara memberikan kuesioner untuk mengetahui perilaku menyikat gigi dan melakukan pemeriksaan OHIS menurut Green and Vermillion pada siswa-siswi kelas IV, V dan VI. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar respoden berjenis kelamin perempuan 35orang (64%) dan jenis kelamin laki-laki 20 orang (36%). Berdasarkan usia terdapat responden umur 8 tahun 7 orang (13%), umur 9 tahun sebanyak 12 orang (22%), kemudian usia 10 tahun mempunyai 25 orang (45%), dan umur 11 tahun terdapat 11 orang (20%). Berdasarkan penilaian dari pemeriksaan OHIS sebanyak 35 responden (64%) berkategori baik, 15 responden (27%) berkategori sedang, dan berkategori buruk 5 responden (9%). Simpulan: Siswa-siswi kelas IV, V dan VI memiliki kebersihan gigi dan mulut yang baik.Kata kunci : status kebersihan mulut, perilaku menyikat gigi
STATUS KEBERSIHAN MULUT ANAK USIA 9-11 TAHUN DAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI MALAM SEBELUM TIDUR DI SDN MELONGUANE Sampakang, Trisye; Gunawan, Paulina N.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6406

Abstract

Abstrack: Children at primary school age need more attention because the risk of oral health problems. One way to maintain oral health is brushing your teeth before going to bed which plays an important role in preventing the development of bacteria that can cause tooth decay. Oral hygiene is measured by an examination of OHI-S by Green and Vermillion.This study was conducted to determine how the oral hygiene status of children aged 9-11 years by brushing at night before bed. This study is a descriptive study using purposive sampling method. The number of samples was 135 children aged 9-11 years consist of 53 children brushing their teeth at night before bed and 82 children who do not brush at night before bed. Results from this study showed 53 respondent brushing their teeth at night before bed and 82 respondent do not brush at night before bed. From children who brush their teeth at night before bed, 36 respondent had good OHI-S category and 1 has poor category. It showed that more than half of the children aged 9-11 years old who brush their teeth night before bed had a good OHI-S category which is 36 of 53 respondent.Keywords: OHI-S, brushing teeth at night before bedtime, oral hygieneAbstrak: Anak usia sekolah dasar perlu mendapat perhatian lebih karena rentan terhadap gangguan kesehatan gigi dan mulut. Salah satu cara menjaga kesehatan gigi dan mulut yaitu menyikat gigi sebelum tidur yang berperan penting dalam pencegahan perkembangan bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan gigi. Kebersihan gigi dan mulut diukur dengan pemeriksaan OHI-S menurut Green dan Vermillion. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui status kebersihan mulut anak usia 9-11 tahun menurut kebiasaan menyikat gigi malam sebelum tidur. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode pengambilan sampel purposif. Jumlah sampel 135 anak berusia 9-11 tahun yang terdiri dari 53 anak yang menyikat gigi malam sebelum tidur dan 82 anak yang tidak menyikat gigi malam sebelum tidur. Dari penelitian ini diperoleh 53 (39,26%) responden yang menyikat gigi malam sebelum tidur dan 82 (60,74%) responden yang tidak menyikat gigi malam sebelum tidur. Didapat 36 responden dengan kategori OHI-S baik dan 1 responden yang memiliki kategori OHI-S buruk pada responden yang menyikat gigi malam sebelum tidur. Dapat dilihat status kebersihan mulut anak usia 9-11 tahun menunjukkan lebih dari setengah responden yang menyikat gigi malam sebelum tidur memiliki kategori OHI-S baik yaitu 36 dari 53 responden.Kata kunci: OHI-S, menyikat gigi malam sebelum tidur, kebersihan mulut
PERSEPSI PASIEN PENGGUNA GIGI TIRUAN LEPASAN BERBASIS AKRILIK YANG MENGGUNAKAN JASA DOKTER GIGI DI KOTAMOBAGU Mokodompit, Rifon I.; Siagian, Krista V.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.8077

Abstract

Abstract: Loss of teeth can be caused by various diseases such as caries and periodontal disease. Losing teeth can lead people to emotional impact as well as impaired functions of speaking, chewing, and aesthetics. The use of denture to replace missing teeth is important to avoid these impacts. This study aimed to determine patients’ perception as users of removable acrylic based denture in Kotamobagu. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population were 203 users of removable acrylic based denture at dentist services in Kotamobagu. Samples were 67 respondents obtained by using Solvin formula and simple random sampling method. In this study we used questionnaire consisted of 25 questions. The results showed that the patient’s perception was in good category based on competence, access, needs, time, and budget.Keywords: patient’s perception, removable denture, dentist serviceAbstrak: Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh berbagai penyakit seperti karies dan penyakit periodontal. Kehilangan gigi dapat menimbulkan dampak emosional serta terganggunya fungsi bicara, pengunyahan, dan estetika. Penggunaan gigi tiruan untuk menggantikan gigi yang hilang penting dilakukan untuk menghindari dampak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pasien pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik yang menggunakan jasa dokter gigi di Kotamobagu. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi yaitu pasien pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik yang menggunakan jasa dokter gigi di Kotamobagu yang berjumlah 203 jiwa. Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin menghasilkan 67 sampel, dan metode pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling. Studi ini menggunakan kuesioner yang berjumlah 25 pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan kompetensi, akses, kebutuhan, waktu, dan biaya persepsi pasien termasuk kategori baik.Kata kunci : persepsi pasien, gigi tiruan lepasan, jasa dokter gigi
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PENCABUTAN GIGI PADA MASYARAKAT KELURAHAN KOMBOS BARAT BERDASARKAN PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN Lethulur, Vita A.; Pangemanan, Damajanti H. C.; Supit, Aurelia
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6397

Abstract

Abstract: Dental health as an integral part of public health needs attention of the government and society. Efforts to provide dental care to the community in the field of curative usually a tooth extraction. Lack of knowledge about tooth extraction causes the general public, especially people in West Kombos village avoid prolonged pain even though the tooth can still be maintained. This study aimed to describe the level of public knowledge about tooth extraction based on education and jobs in West Kombos village. This was a cross sectional study. Data were taken by using stratified random sampling method in which the number of samples taken at 5 areas. The result showed that the level of knowledge based on public education 39.7% were in primary school education and the level of knowledge based on jobs 35.87% were housewives. Conclusion: Based on education and jobs, the level of knowledge about tooth extraction among West Kombos people were largely categorized bad.Keywords: knowledge, tooth extractionAbstrak: Kesehatan gigi sebagai bagian integral dari kesehatan umum perlu mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat. Upaya pemberian pelayanan kesehatan gigi pada masyarakat dibidang kuratif umumnya berupa pencabutan gigi. Kurangnya pengetahuan tentang pencabutan gigi menyebabkan masyarakat umum khususnya masyarakat di kelurahan Kombos Barat melakukan pencabutan agar terhindar dari rasa sakit berkepanjangan meskipun gigi tersebut masih bisa dipertahankan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencabutan gigi berdasarkan pendidikan dan pekerjaan di kelurahan Kombos Barat. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang. Data diambil menggunakan metode proportional stratified random sampling dimana jumlah sampel diambil pada 5 lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat berdasarkan pendidikan yaitu 39,7% pendidikan sekolah dasar dan tingkat pengetahuan berdasarkan pekerjaan yaitu 35,87% ibu rumah tangga. Simpulan: Tingkat pengetahuan masyarakat kelurahan Kombos Barat tentang pencabutan gigi berdasarkan pendidikan dan pekerjaan sebagian besar dikategorikan buruk.Kata kunci: pengetahuan, pencabutan gigi
PENILAIAN RISIKO KARIES MELALUI PEMERIKSAAN ALIRAN DAN KEKENTALAN SALIVA PADA PENGGUNA KONTRASEPSI SUNTIK DI KELURAHAN BANJER KECAMATAN TIKALA Senawa, I Made W. A.; wowor, Vonny N. S.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6601

Abstract

Abstract: Caries still becomes a problem in many countries include Indonesia. Basic Health Research in 2007 showed that caries experience of Indonesian population reach 72,1% and North Sulawesi stand at third rank with 82,8%. Determination of caries activity of individual can be done with caries risk assessment. Salivary flow and viscosity is included in caries risk assessment. Low salivary flow and high viscosity can show the presence of caries process. Hormonal contraception by injection is used more in Indonesia. In 2013 women who use injection KB was 49,42 % and in North Sulawesi was 41,30 %. Estrogen and progesterone hormone compound in injectable contraception are suspected to have ability to increase saliva secretion. Study type was descriptive with cross-sectional design and sampling method with purposive sampling by collect saliva in 5 minute that filled in a container. It is done in Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala. The result showed that the majority (43.1 %) had normal salivary flow. Salivary viscosity result showed mostly 61.4 % had injectable contraception users in Kelurahan Banjer mostly had normal flow and placed in medium caries risk category. Salivary viscosity of injectable contraception users were watery category and placed in low caries riskKeywords: caries risk, salivary flow, salivary viscosity, injectable contraception users.Abstrak: Penyakit karies masih menjadi masalah di berbagai negara termasuk di Indonesia. Hasil Riset kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan pengalaman karies yang diderita penduduk Indonesia mencapai 72,1% dan Sulawesi Utara menempati urutan ketiga dengan 82,8%. Penentuan aktivitas karies pada individu dapat dilakukan melalui penilaian risiko karies. Pemeriksaan aliran dan kekentalan saliva dapat digunakan untuk menilai risiko karies. Kecepatan aliran saliva dan dan kekentalan saliva dapat menunjukkan risiko karies individu. Kontrasepsi suntik merupakan jenis kontrasepsi hormonal yang semakin banyak dipakai di Indonesia. Tahun 2013 wanita pengguna Kontrasepsi Suntik di Indonesia sebanyak 49,42% dan di Sulawesi Utara sebanyak 41,30%. Kandungan hormon esterogen dan progesteron dalam Kontrasepsi Suntik diduga dapat meningkatkan sekresi saliva. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional serta pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan cara mengumpulkan saliva selama 5 menit yang ditampung ke dalam wadah. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas (43,1%) memiliki aliran saliva normal dan 61,4% memiliki kekentalan saliva yang tergolong encer. Kesimpulan penelitian ini yaitu aliran saliva pengguna Kontrasepsi Suntik di Kelurahan Banjer sebagian besar berada pada kategori normal dan risiko karies tergolong sedang. Kekentalan saliva pengguna KB suntik di Kelurahan Banjer berada pada kategori yang encer dan dikategorikan risiko karies rendah.Kata kunci: risiko karies, aliran saliva, kekentalan saliva, pengguna kontrasepsi suntik
GAMBARAN STOMATITIS AFTOSA REKUREN DAN STRES PADA NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II B BITUNG Junhar, Melky G.; Suling, Pieter L.; Supit, Aurelia S. R.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6453

Abstract

Abstract: Prisoners are individuals who have been convicted of crimes and were sentenced to prison so they lost their freedom. Lost of freedom can cause stress. Stress is the ability of a person to survive under pressure without causing disturbance. Recurrent aphthous stomatitis (RAS) is a manifestation in the oral cavity which is usually triggered by some predisposing factors such as stress. This study aimed to describe recurrent aphthous stomatitis and stress among prisoners in prison class IIB Bitung. This study was cross-sectional with total sampling method. All prisoners who had experienced recurrent aphtous stomatitis (RAS) while in prison class IIB Bitung. The results showed that among the 56 respondents there were 53 male respondents (94.64%) and 3 female respondents (5.36%); 19 (33.93%) got mild stress, 18 (32.14%) moderate stress, 16 (28.58%) severe stress, and 3 (5.35%) very severe stress.Keywords: prisoner, stress, recurrent aphthous stomatitis (RAS)Abstrak: Narapidana adalah individu yang telah terbukti melakukan tindak pidana dan kemudian oleh pengadilan dijatuhi hukuman atau pidana serta kehilangan kebebasan. Kehilangan kebebasan menimbulkan terjadinya stres pada narapidana. Stres merupakan kemampuan individu untuk bertahan dalam menghadapi berbagai tekanan tanpa mengakibatkan gangguan. Stomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan manifestasi yang timbul dalam rongga mulut yang biasanya dipicu oleh beberapa faktor predisposisi, salah satunya stres. Tujuan penelitian yaitu mengetahui gambaran stomatitis aftosa rekuren dan stres pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Bitung. Jenis penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Semua narapidana yang pernah mengalami Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) saat berada di Lembaga Pemasyarakatan kelas II B Bitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 56 responden terdapat 53 responden berjenis kelamin laki-laki (94,64%) dan terdapat 3 responden berjenis kelamin perempuan (5,36%). Hasil pengukuran stres menunjukkan bahwa dari 56 responden 19 responden (33,93%) mengalami tingkat stres ringan, 18 responden (32,14%) mengalami tingkat stres sedang, 16 responden (28,58%) mengalami tingkat stres berat dan 3 responden (5,35%) mengalami tingkat stres sangat berat.Kata kunci: narapidana, stres, stomatitis aftosa rekuren.
GAMBARAN KEBIASAAN MEROKOK DAN LEUKOEDEMA PADA MAHASISWA PAPUA DI MANADO Enoch, Elda Y.; Suling, Pieter L.; Supit, Aurelia S. R.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6402

Abstract

Abstract: Smoking is a common habit, which have destructive impact. Smoking can cause negative impact either systemically or locally and cause changes to soft tissue within the mouth cavity like leukoedema. The purpose of this study is to get an overview of the smoking habit and the leukoedema of Papuan students in Manado. This study is a descriptive study using the cross-sectional study approach. Sample is taken using total sampling technique, where fourty five students is used as the sample of the study. The results of the study shows the smoking habits and leukoedema of Papuan students in Manado. It is found that among the sample, up to (51,1%) of the students with smoking habit are mostly at the age of 23th, with age range between 21-25 years old. The period of smoking is mostly between 1-5 years, which involve 22 respondents (48,9%). The smoking frequency is typically around 1-10 cigarette a day, which involve 21 respondents (46,7%). Out of 45 respondents, there are 41 respondents (91,1%) having leukoedema within their mouth cavity, which is found in the cheek mucosa. Conclusion: Smoking habit occurs mostly between the range of 1 to 5 years and leukoedema lesions is typically found in the cheek mucosa.Keywords: smoking habit, leukoedemaAbstrak: Kebiasaan merokok, merupakan kebiasaan yang bersifat umum dan memiliki daya rusak yang tinggi. Merokok dapat menimbulkan efek negatif baik secara sistemik maupun lokal dan menyebabkan perubahan jaringan lunak dalam rongga mulut seperti leukoedema. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok dan leukoedema pada mahasiswa Papua di Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah total sampling, dimana jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 45 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran kebiasaan merokok dan leukoedema pada mahasiswa Papua di Manado. Sampel yang paling banyak, sebanyak (51,1%) mahasiswa yang mempunyai kebiasaan merokok berdasarkan usia sebanyak 23 responden, pada rentang usia 21-25 tahun. Lamanya merokok terbanyak 1-5 tahun, sebanyak 22 responden (48,9%). Frekuensi merokok terbanyak 1-10 batang rokok sehari, sebanyak 21 responden (46,7%). Dari 45 responden, ada 41 responden (91,1%) yang memiliki leukoedema dalam rongga mulutnya yang terdapat pada mukosa pipi. Simpulan: Kebiasaan merokok terjadi paling banyak berada di rentang 1-5 tahun dan lesi leukoedema paling banyak ditemukan di mukosa pipi.Kata kunci: kebiasaan merokok, leukoedema
PENANGANAN FLUOROSIS GIGI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MIKROABRASI Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.7131

Abstract

Abstract: Dental fluorosis is a structural abnormality or deformity of tooth enamel which looks mottled (mottled enamel) as a result of excessive fluoride intake during tooth formation. Deformities involve the tooth form (hypoplasia) and abnormalities in tooth color (hypocalcification) that is characterized by the presence of shiny white spots as well as oblique lines and opaque or yellow to brown coloring of the enamel surface. Dental fluorosis is classified into four levels: very mild, mild, moderate, and severe. There are several techniques of treatment. Microabrasion technique is suitable for very mild to moderate level while veneering is more suitable for severe dental fluorosis. Microabrasion technique is aimed to remove caries and to eliminate fluorosis on the enamel surface. Teeth with dental fluorosis treated with microabrasion technique look more natural than those treated with other techniques.Keywords: dental fluorosis, hypoplasia, microabrasion techniqueAbstrak: Fluorosis gigi merupakan suatu kelainan struktur email bebercak atau cacat (mottled enamel) sebagai dampak asupan fluor berlebih pada masa pembentukan gigi. Gangguan yang terjadi berupa kelainan bentuk gigi (hipoplasia) dan kelainan warna gigi (hipokalsifikasi) ditandai dengan timbulnya bintik-bintik putih mengkilat, garis putih menyilang, warna buram, kuning sampai coklat pada permukaan email. Drental fluorosis diklasifikasikan atas empat tingkat yaitu sangat ringan hingga berat. Perawatan fluorosis dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan teknik mikroabrasi untuk tingkat sangat ringan hingga sedang, serta pelapisan bahan restorasi (veneering) untuk tingkat berat. Teknik mikrobrasi ditujukan untuk menanggulangi karies gigi dan menghilangkan fluorosis terbatas pada permukaan email. Perawatan fluorosis gigi dengan menggunakan teknik mikroabrasi dapat memberikan hasil yang terlihat lebih alami dibandingkan dengan teknik perawatan lain.Kata kunci: fluorosis gigi, hipoplasia, teknik mikroabrasi.
STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT SISWA SMA NEGERI 9 MANADO PENGGUNA ALAT ORTODONTIK CEKAT Momongan, Ravenske E. C; Lampus, Benedictus S.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6409

Abstract

Abstract: Fixed orthodontic appliance has been widely used in society, but they are often not aware of the risk of the use of fixed orthodontic appliances such as dental and oral hygiene problems. Design tool fixed orthodontic makethe dental cleaning procedure becomes more difficult. Oral hygiene is maintained in the user less dental appliance, such as the user orthodontic appliances can cause periodontal tissue damage and increasing the number of caries during treatment. This study is a descriptive study in order to determine the status of oral and dental hygiene students of Public Senior High School 9 Manado users fixed orthodontic appliances. The study population is the students of Public Senior High School 9 Manado fixed orthodontic appliance users who were attending school classes XI and XII. Samples numbered 39 people and sampling carried out with total sampling method. The research instrument was a check list form and interview. Assessment of dental and oral hygiene status was obtained by measuring the score Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S). The results showed that the average of OHI-S scores in SMA Negeri 9 Manado was 1,22. By sex as much as 3 boys (7,7%) had a score of OHI-S 0,83 and a total of 36 girls (92,3%) had a score of OHI-S 1,23; based on the socio-economic level as much as 6 students (15,4%) with moderate socioeconomic level had OHI-S score of 1,97 and a total of 33 students (84,6%) in the high socioeconomic level had OHI-S score of 1,06. Period of <1 year usage by 25 students (64,1%) had a score of OHI-S 1.05; 1-2 years as many as 12 respondents (30.8%) had a score of OHI-S 1,15 and >2 years two respondents (5, 1%) had a score of OHI-S 1.5.Oral hygiene status of the student-sex male and female average is fair. Oral hygiene statuses of students with socio-economic level of parents are on average quite good and students with low socioeconomic level average moderate. Oral hygiene status of students who use a fixed orthodontic appliance under 1 year and 1-2 years on average quite good and more than 2 years on average moderate. Oral hygiene status of the student users fixed orthodontic appliances in general quite good. Keywords : Fixed orthodontic, dental and oral hygiene.Abstrak: Alat ortodontik cekat sudah banyak digunakan dalam masyarakat, namun mereka sering tidak menyadari risiko penggunaan alat ortodontik cekat seperti masalah kebersihan gigi dan mulut. Desain alat ortodontik cekat menyebabkan prosedur pembersihan gigi dan mulut menjadi lebih sulit. Kebersihan gigi dan mulut yang kurang terjaga pada pengguna dental appliance, seperti pada pengguna alat ortodontik dapat menyebabkan kerusakan jaringan periodontal dan meningkatnya jumlah karies selama perawatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Negeri 9 Manado pengguna alat ortodontik cekat. Populasi penelitian yaitu siswa SMA Negeri 9 Manado pengguna alat ortodontik cekat yang duduk dibangku sekolah kelas XI dan XII. Sampel berjumlah 39 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Instrumen penelitian berupa formulir check list dan wawancara. Penilaian status kebersihan gigi dan mulut diperoleh dengan pengukuran skor Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S). Hasil penelitian menunjukkan skor OHI-S rata-rata siswa SMA Negeri 9 Manado sebesar 1,22. Berdasarkan jenis kelamin sebanyak 3 siswa laki-laki (7,7%) memiliki skor OHI-S 0,83 dan sebanyak 36 siswa perempuan (92,3%) memiliki skor OHI-S 1,23; berdasarkan tingkat sosial ekonomi sebanyak 6 siswa (15,4%) dengan tingkat sosial ekonomi sedang memiliki skor OHI-S 1,97 dan sebanyak 33 siswa (84,6%) pada tingkat sosial ekonomi tinggi memiliki skor OHI-S 1,06. Lama penggunaan < 1 tahun sebanyak 25 siswa (64,1%) memiliki skor OHI-S 1,05; 1 ? 2 tahun sebanyak 12 responden (30,8%) memiliki skor OHI-S 1,15 dan > 2 tahun ada 2 responden (5, 1%) memiliki skor OHI-S 1,5. Status kebersihan gigi dan mulut siswa berjenis kelamin laki-laki dan perempuan rata-rata tergolong baik. Status kebersihan gigi dan mulut siswa dengan tingkat sosial ekonomi orang tua sedang rata-rata tergolong baik dan siswa dengan tingkat sosial ekonomi rendah rata-rata tergolong sedang. Status kebersihan gigi dan mulut siswa yang menggunakan alat ortodontik cekat di bawah 1 tahun dan 1- 2 tahun rata-rata tergolong baik dan lebih dari 2 tahun rata-rata tergolong sedang. Status kebersihan gigi dan mulut siswa pengguna alat ortodontik cekat pada umumnya tergolong baik.Kata kunci: alat ortodontik cekat, kebersihan gigi dan mulut.

Page 3 of 4 | Total Record : 35