cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi" : 9 Documents clear
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Laju Aliran Saliva pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi Fernanda, Vena; Pangemanan, Damajanty H.C.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19651

Abstract

Abstract: Body Mass Index (BMI) can be used as an indicator to obtain the nutritional status of an individual. Poor nutritional status can influence salivary flow rate resulting in several diseases in the oral cavity such as xerostomia, caries, etc. This study was aimed to obtain the relationship between BMI and salivary flow rate in college students of the Dentistry Program of Sam Ratulangi University. This was an analytical descriptive study with a cross sectional design conducted in 54 college students of the Dentistry Program of Sam Ratulangi University. BMI was calculated in kg/m2 meanwhile the salivary flow rate was determined with unstimulated saliva collection method in ml/minute. Data were analyzed by using Pearson correlation test. The results showed that there were 54 subjects consisted of 12 males and 42 females with an age range of 18-22 years old. Most of the subjects had normal BMI (9.26% in males and 42,59% in females). Normal BMI was most common in subjects aged 21 years (16,67%). The lowest salivary flow rate (0.10 ml/minute) was 1.85% and the highest salivary flow rate (0.33 ml/minute) was 16.67%. The Pearson correlation test showed P = 0.000 (< 0.05) and r = -0.756. Conclusion: In this study, there was a significant negative relationship between BMI and salivary flow rate in college students of the Dentistry Program of Sam Ratulangi University.Keywords: BMI, salivary flow rate Abstrak: Indeks massa tubuh (IMT) dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui status gizi seseorang. Status gizi buruk dapat memengaruhi laju aliran saliva sehingga dapat menyebabkan berbagai macam penyakit di dalam rongga mulut antara lain xerostomia dan karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan IMT dengan laju aliran saliva pada mahasiswa PSPDG Unsrat. Jenis penelitian ini ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 54 mahasiswa PSPDG Unsrat. IMT ditentukan dalam satuan kg/m2dan laju aliran saliva ditentukan dengan metode pengumpulan unstimulated saliva dengan satuan ml/menit. Data dianalisis menggunakan uji korelasi sederhana Pearson untuk mengetahui hubungan IMT dengan laju aliran saliva. Hasil penelitian mendapatkan 54 subyek penelitian terdiri dari 12 laki-laki dan 42 perempuan dengan usia 18-22 tahun. Nilai IMT pada laki-laki dan perempuan paling banyak terdapat pada kategori normal (9,26% dan 42,59%). IMT normal berdasarkan usia paling banyak terdapat pada usia 21 tahun sebanyak 9 subyek (16,67%). Laju aliran saliva terendah (0,10 ml/menit) sebanyak 1,85% dan laju aliran saliva tertinggi (0,33 ml/menit) sebanyak 16,67%. Uji korelasi sederhana Pearson menunjukkan nilai P = 0,000 (<0,05) dan r = -0,756. Simpulan: Terdapat hubungan negatif yang bermakna antara IMT dengan laju aliran saliva pada mahasiswa PSPDG Unsrat.Kata kunci: IMT, laju aliran saliva
Pengaruh Pemberian Jus Buah Pir (Pyrus Communis) terhadap Pembersihan Stain Ekstrinsik pada Resin Komposit Dendhana, Didiet S.; Wowor, Pemsi M.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19294

Abstract

Abstract: Tooth discoloration such as staining could possibly affect the condition of restorative treatment on the teeth caused by extrinsic and intrinsic factors. Bleaching could provide a solution to color changing problem of composite filling. Hydrogen peroxide (H2O2), the most common chemical agent to perform bleaching, is found naturally in pear fruit; therefore, it could be an alternative treatment to reduce stain of composite filling. This study was aimed to find out the stain removal effect of blended pear fruit on composite filling. This is a laboratory experimental study with a pre-post control group design. Total samples were 20 pieces of circular composites with 5 mm in diameter and 2 mm in thickness. The samples were submerged in coffee extract for 10 days to create visible extrinsic staining at their surfaces, and then the discoloration was measured with spectrophotometer. After that, the samples were divided into two groups with ten samples each: group A, submerged in coffee extract and group B submerged in blended pear juice for seven days. After the submerging procedure performed, all samples of group B were measured again with spectrophotometer. The results showed that in group B there was a significant effect on stain removal of composite resin (p <0.05). Conclusion: Blended pear fruit had stain removal effect in composite filling.Keywords: pear juice, extrinsic stain, composite resin. Abstrak: Perubahan warna gigi berupa stain dapat memengaruhi kondisi restorasi dalam rongga mulut yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik dan intrinsik. Bleaching dapat dilakukan untuk menangani masalah perubahan warna resin komposit. Salah satu bahan bleaching yang sering digunakan di bidang kedokteran gigi ialah hidrogen peroksida (H2O2). Senyawa ini terkandung dalam buah pir yang dapat digunakan sebagai perawatan alternatif untuk mengurangi stain pada resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus buah pir terhadap pembersihan stain ektrinsik pada resin komposit. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorium dengan pre and post control group design. Jumlah sampel penelitian ialah 20 resin komposit yang dibentuk dengan diameter 5 mm dan tebal 2 mm. Sampel direndam dalam larutan kopi selama 10 hari untuk melihat adanya stain ekstrinsik pada permukaan sampel resin komposit, kemudian dilakukan pengukuran perubahan warna dengan spektrofotometer. Setelah itu sampel dibagi atas dua kelompok masing-masih 10 buah sampel: kelompok A untuk perendaman dalam larutan kopi dan kelompok B untuk perendaman dalam jus buah pir selama tujuh hari kemudian sampel kelompok B dilakukan pengukuran kembali dengan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh bermakna (p <0,05) terhadap pembersihan stain ekstrinsik pada resin komposit pada kelompok B. Simpulan: Pemberian jus buah pir dapat membersihkan stain ektrinsik pada resin kompositKata kunci: jus buah pir, stain ekstrinsik, resin komposit
Hubungan antara Status Gizi dengan Gingivitis pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi Hanifah, Fenti; Kawengian, Shirley E.S.; Tambunan, Elita
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19652

Abstract

Abstract: Gingivitis is an inflammation process of gingiva caused by accumulation of biofilm on plaques around the margin of gingiva as well as an inflammation response against bacteria. Nutritional status is affected by macro and micronutrient intake. Poor nutritional status can cause abnormality of function and structure of oral soft tissue resulting in increased plaque forming which leads to the occurence of gingivitis. This study was aimed to obtain the relationship between nutritional status and the occurence of gingivitis. This was an analytical study using a cross-sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. There were 77 students as samples. The nutritional status was measured by using body mass index (BMI), and examination of oral cavity was performed to check the occurence of gingivitis. The result showed that 46.8% of students had gingivitis. The nutritional status of the students based on IMT were as follows: 19.5% were categorized as underweight, 65% as normal weight, 9% as overweight, and 6.5% as obese. The bivariate analysis using the Chi-square test showed a P value of 0.000 (<0.05). Conclusion: There was a significant relationship between the nutritional status and gingivitis in students of Dentistry Program, Sam Ratulangi University.Keywords: nutritional status, gingivitis Abstrak: Gingivitis merupakan reaksi inflamasi dari gingiva yang disebabkan oleh akumulasi biofilm pada plak di sekitar margin gingiva dan respon peradangan terhadap bakteri. Status gizi dipengaruhi oleh asupan gizi makronutrien dan mikronutrien yang seimbang. Gizi kurang dapat menyebabkan gangguan fungsi dan struktur jaringan lunak mulut sehingga pembentukan plak meningkat yang menjadi penyebab awal gingivitis. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan gingivitis. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan total populasi sebanyak 77 mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi. Status gizi diukur menggunakan rumus perhitungan IMT dan pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk melihat ada tidaknya gingivitis. Hasil penelitian menunjukkan 46,8% mahasiswa mengalami gingivitis. Penentuan status gizi berdasarkan IMT mendapatkan sampel kategori kurus (19,5%), normal (65%), berat badan lebih (9%), dan obesitas (6,5%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-square menunjukkan nilai P = 0,000 (0,000 <0,05). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan gingivitis pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi.Kata kunci: status gizi, gingivitis
Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Daun Gedi (Abelmoschus manihot L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus Mutans Sekeon, Helen N.; Homenta, Heriyannis; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19729

Abstract

Abstract: Streptococcus mutans is the most common bacterium that causes dental caries due to its ability to ferment carbohydrates into acid resulting in the decreased pH on the tooth surface. Prevention of dental caries could be achieved by inhibiting the growth of cariogenic bacteria. Various efforts to control and prevent the cariogenic bacteria include the usage of herbal ingredients; one of them is gedi leaves (Abelmoschus manihot L.). These gedi leaves contain bioactive compounds such as flavonoids, alkaloids, steroids, and saponins. This study was aimed to prove that gedi leaf extract had inhibitory effect on the growth of S.mutans and to obtain the minimum inhibitory concentration (MIC) of this extract on the growth of S. mutans. This was a true experimental design with a randomized pretest-posttest control group design. Gedi leaf extract was obtained by maceration method in 96% ethanol. The results showed that gedi leaf extract had an antibacterial effect on the growth of S. mutans. We used turbidimetry, UV-Vis spectrophotometer, and two times of treatment to obtain the MIC of gedi leaf extract on Streptococcus mutans which was 6.25%. Conclusion: Gedi leaf extract could inhibit the growth of S. mutans with a MIC of 6.25%.Keywords: dental caries, gedi leaf extract (Abelmoschus manihot L.), Streptococcus mutans Abstrak: Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan karies gigi karena bakteri ini berkemampuan memfermentasi karbohidrat menjadi asam yang berakibat turunnya pH pada permukaan gigi. Pencegahan karies gigi dapat dicapai dengan menghambat pertumbuhan bakteri kariogenik. Berbagai upaya dilakukan untuk mengen-dalikan dan mencegah bakteri kariogenik, antara lain dengan menggunakan bahan herbal; salah satunya yaitu tanaman gedi (Abelmoschus manihot L.). Daun gedi mengandung senyawa bioaktif antara lain flavonoid, alkaloid, steroid, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek inhibisi ekstrak daun gedi terhadap pertumbuhan S. mutans dan mendapatkan konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun gedi terhadap pertumbuhan bakteri S. mutans. Jenis penelitian ini ialah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design. Ekstrak daun gedi dibuat dengan metode maserasi dengan menggunakan etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.) memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Dengan menggunakan metode turbidimetri dan spektrofotometer UV-Vis dalam 2 (dua) kali perlakuan maka diperoleh KHM ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.) terhadap bakteri Streptococcus mutans terdapat pada konsentrasi 6,25%. Simpulan: Ekstrak daun gedi dapat meghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dengan KHM pada konsentrasi 6,25%.Kata kunci: karies gigi, ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.), Streptococcus mutans
Hubungan Perilaku Pemeliharaan Kebersihan dengan Status Gingiva pada Pengguna Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Baba, Puspitasari; Wowor, Vonny N.S.; Tendean, Lydia
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19515

Abstract

Abstract: Denture hygiene behavior is an important factor in the success of denture treatment because it has a close relationship with attitude, knowledge, and action of denture wearers. Improper maintance of denture hygiene can cause problems to oral health, especially in removable denture wearers. Gingiva is often used as an indicator of periodontal diseases. This study was aimed to obtain the denture hygiene behavior, gingival status, and the relationship between these two conditions among partial removal acrylic-based denture wearers at Wawalintoan, West Tondano. This was a descriptive analytical study with a cross-sectional design performed on 68 respondents wearing partial removal acrylic-based dentures obtained by using purposive sampling technique. Data were collected through questionnaire of denture hygiene behavior and examination of gingival index. The results showed that the respondents had good knowledge, attitude, and action of dental hygiene with an average score of 453 (66.6%). The gingival status was categorized as mild in 39 people (57.4%). The relationship between hygiene maintance and gingival status of the respondents analyzed by using the chi-square test obtained a P-value of 0.000 <0.05. Conclusion: There was a significant relationship between denture hygiene behavior and gingival status of partial removable denture wearers.Keywords: hygiene maintance behavior, gingival status, partial removable denture Abstrak: Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan merupakan faktor penting dalam keberhasilan perawatan gigi tiruan karena berhubungan erat dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan pengguna gigi tiruan. Pemeliharaan kebersihan gigi tiruan yang kurang baik dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan gigi dan mulut terutama pada pengguna gigi tiruan lepasan. Gingiva sering dijadikan sebagai indikator pada penyakit jaringan periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku pemeliharaan kebersihan, status kesehatan gingiva pada pemakai gigi tiruan, dan hubungan perilaku pemeliharaan kebersihan dengan status gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) berbasis akrilik. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 68 responden pengguna GTSL berbasis akrilik di Kelurahan Wawalintoan, Kecamatan Tondano Barat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner perilaku pemeliharaan kebersihan dan pemeriksaan indeks gingiva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari pemeliharaan kebersihan gigi, responden memiliki pengetahuan, sikap, dan tindakan yang tergolong baik dengan skor rerata 453 (66,6%). Status gingiva responden tergolong kategori ringan sebanyak 39 orang (57,4%). Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara pemeliharaan kebersihan dan status gingiva pengguna GTSL mendapatkan P=0,000 ≤0,05. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara perilaku pemeliharaan kebersihan dan status gingiva pada pengguna GTSL.Kata kunci: perilaku pemeliharaan kebersihan, status gingiva, GTSL
Perbedaan Laju Aliran Saliva pada Pengguna Obat Antihipertensi Amlodipin dan Kaptopril di Kelurahan Tumobui Kota Kotamobagu Wotulo, Febrina G.; Wowor, Pemsi M.; Supit, Aurelia S.R.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19728

Abstract

Abstract: Hypertension is still a major factor of global deaths. There are many anti-hypertensive drugs inter alia diuretics, beta blockers, angiotensin converting enzyme inhibitors (such as captopril), and calcium antagonists (such as amlodipine). The side effects of the antihypertensive agents amlodipine and captopril in the oral cavity are due to their effects on salivary flow rate which further cause xerostomia. This study was aimed to determine the difference in salivary flow rate between amlodipine consumers and captopril consumers in Tumobui Village Kotamobagu City. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Subjects were amlodipine consumers and captopril consumers, each of 30 people aged 18-55 years obtained by using purposive sampling technique. Statistical analysis by using the Mann-Whitney U test showed a P value of 0.932 (>0.05). Conclusion: There was no significant difference in salivary flow rate between amlodipine consumers and captopril consumers in Tumobui Village Kotamobagu City.Keywords: antihypertensive, amlodipine, captopril, salivary flow rate Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu faktor utama kematian global. Penggunaan obat antihipertensi sangat beragam bagi penyandang hipertensi mulai dari diuretik, penyekat resep-tor beta adrenergik, penghambat reseptor angiotensin, penghambat angiotensin converting enzyme (sebagai contoh kaptopril), dan antagonis kalsium (sebagai contoh amlodipin). Amlodipin dan kaptopril menimbulkan efek samping dalam rongga mulut, salah satunya ialah memengaruhi laju aliran saliva yang berlanjut sebagai xerostomia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju aliran saliva pada pengguna obat antihipertensi amlodipin dan kaptopril di Kelurahan Tumobui Kota Kotamobagu. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Subyek penelitian terdiri dari pengguna obat antihipertensi amlodipin dan pengguna kaptopril masing-masing 30 orang berusia 20-55 tahun, yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh berdasarkan kuesioner penelitian dan pengukuran laju aliran saliva dengan unstimulated salivary flow rate (USFR). Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney mendapatkan nilai P = 0,932 (>0,05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara laju aliran saliva pada pengguna obat antihipertensi amlodipin dan kaptopril di Kelurahan Tumobui Kota Kotamobagu.Kata kunci: antihipertensi, amlodipin, kaptopril, laju aliran saliva
Xerostomia pada Usia Lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur Tawas, Stevany A.D.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19556

Abstract

Abstract: Generally, in elderly there is a change in saliva composition due to the decreased production of saliva which leads to dry mouth or xersotomia. Clinically, a patient with dry mouth will feel dry on his/her lips and the mouth corners become irritated. This study was aimed to obtain the profile of xerostomia in the elderly at Kelurahan Malalayang Satu Timur. This was a descriptive study using a cross sectional design. This study was conducted in Kelurahan Malalayang Satu Timur. Samples of this study were obtained by using total sampling method. The study was performed on 35 peoples aged 60 to 75 years (according to WHO standard) as subjects. Salivary flow rate was measured with a measuring cup. The results showed that xerostomia was found in 87.5% of the subjects, more dominant in females (96.7%), and more frequent in the age group 65-69 years (66.7%). Conclusion: At Kelurahan Malalayang Satu Timur, xerostomia was more common in female elderly and age group 65-69 yearsKeywords: xerostomia, elderly Abstrak: Umumnya seseorang yang sudah memasuki usia lanjut akan mengalami perubahan dalam komposisi saliva akibat produksi saliva berkurang yang bermanifestasi sebagai xerostomia. Secara klinis pasien dengan xerostomia akan merasa kering pada bibir dan bagian sudut mulut mengalami iritasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran xerostomia pada kelompok usia lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Penelitian dilakukan di Kelurahan Malalayang Satu Timur. Terdapat 35 subyek usia lanjut dengan usia 60-75 tahun (menurut standar WHO). Pengukuran laju aliran saliva dilakukan dengan menggunakan metode spitting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xerostomia ditemukan pada 85,7% dari subyek. Jenis kelamin perempuan lebih dominan (96,7%) dan tersering pada rentang usia 65-69 tahun (66,7%). Simpulan: Pada kelompok usia lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur xerostomia lebih sering terjadi pada yang berjenis kelamin perempuan dan usia 65-69 tahun.Kata kunci: xerostomia, usia lanjut
Perbedaan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Susu Sapi Murni dan Susu Sapi Bubuk Seralurin, Iriana T.; Wowor, Vonny N.S.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19514

Abstract

Abstract: Saliva is a complex oral fluid consisting of a mixture of secretion of the major and minor salivary glands in the oral mucosa with a normal pH of 5.6-7.0. There are several factors that can cause changes in the salivary pH, as follows: average saliva flow rate, oral microorganisms, salivary buffer capacity, and food and beverages oftenly consumed inter alia milk. Milk contains a lot of nutrients such as carbohydrates, proteins, minerals, and vitamins. This study was aimed to determine the difference of salivary pH after consuming pure cow milk and powdered cow milk, and to obtain the salivary pH after consuming pure cow milk or powdered cow milk. This was an experimental study using pretest-posttest study design. There were 38 respondents. Each respondent consumed pure cow milk or powdered cow milk. Decreased salivary pH was more dominant in respondents who consumed powdered cow milk. The Mann-Whitney test showed that there was a difference of salivary pH between after consuming pure cow milk and powdered cow milk (P=0.000). Conclusion: There was a significant difference in salivary pH between after consuming pure cow milk and powdered cow milk. Salivary pH showed bigger dicrease after consuming powdered cow milk than consuming pure cow milk.Keywords: salivary pH, pure cow milk, powdered cow milk Abstrak: Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks, terdiri atas campuran sekresi kelenjar saliva mayor dan minor yang terdapat dalam mukosa mulut dengan pH saliva berkisar 5,6-7,0. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan pada pH saliva antara lain rerata kecepatan aliran saliva, mikroorganisme rongga mulut, kapasitas bufer saliva, serta makanan dan minuman yang sering di konsumsi; salah satunya ialah susu. Susu mengandung banyak zat-zat makanan seperti karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk, dan untuk mengetahui pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan pretest-posttest study design. Terdapat total 38 responden penelitian. Setiap responden mengonsumsi susu sapi murni atau susu sapi bubuk sebanyak 250ml. Pengukuran pH saliva dilakukan pada menit ke-5 setelah mengonsumsi susu sapi murni atau susu sapi bubuk. Uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk (P=0,000). Penurunan pH saliva terbanyak terdapat pada responden yang meminum susu sapi bubuk. Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna antara pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk. Penurunan pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi bubuk lebih besar dibandingkan setelah mengonsumsi susu sapi murni.Kata kunci: pH saliva, susu sapi murni, susu sapi bubuk
Uji Daya Hambat Perasan Daging Buah Alpukat (Persea americana Mill.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Muchyar, Dwi S.R.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Supit, Aurelia S.R.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19653

Abstract

Abstract: To date, Staphylococcus aureus resistance to some antibiotics is still increasing inter alia the methisillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Therefore, it is necessary to find other alternative materials that could overcome this bacteria. Avocado (Persea americana Mill.) is a medicinal plant that contains antibacterial compounds such as saponins, glutathiones, flavonoids, and tannins in its fruit flesh. This study was aimed to obtain the inhibitory effect of avocado flesh on the growth of S. aureus. This was a true experimental study with a post test only control group design. We used Kirby-Bauer modification with paper disks. The positive control was ciprofloxacin and the negative control was aquadest. The avocado flesh was refined by using a juicer and then was filtered. Staphylococcus aureus bacteria were obtained from pure bacteria stock at Microbiology Laboratory of Pharmacy Study Program at Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University. The result showed that the avocado juice had an inhibitory effect on the growth of S. aureus. The mean diameter of inhibitory zones formed was 15.55 mm which was classified as a strong inhibitory effect. Conclusion: The avocado flesh had a strong inhibitory effect on the growth of Staphylococcus aureus.Keywords: avocado flesh (Persea americana Mill.), S. aureus, inhibitory effect Abstrak: Resistensi bakteri Staphylococcus aureus terhadap beberapa jenis antibiotik sudah cukup tinggi. Sebagai contoh ialah methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Oleh karena itu perlu dicari bahan alternatif lain yang dapat mengatasi berkembang biaknya bakteri ini. Buah alpukat (Persea americana Mill.) merupakan salah satu tanaman obat yang dikenal berkhasiat sebagai antibakteri karena terdapat kandungan senyawa antibakteri pada daging buah seperti saponin, glutatin, flavonoid, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat perasan daging buah alpukat (Persea americana Mill.) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus. Jenis penelitian ini ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Metode yang digunakan yaitu modifikasi Kirby-Bauer dengan kertas saring. Kontrol positif menggunakan antibakteri ciprofloxacin dan kontrol negatif menggunakan akuades. Daging buah alpukat dihaluskan dengan menggunakan juicer dan disaring. Bakteri S. aureus diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan daging buah alpukat memilki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus. Diameter rerata zona hambat yang terbentuk yaitu 15,55 mm dan digolongkan sebagai zona hambat yang kuat. Simpulan: Perasan daging buah alpukat (Persea americana Mill.) memiliki daya hambat kuat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus.Kata kunci: daging buah alpukat (Persea americana Mill.), S. aureus, daya hambat

Page 1 of 1 | Total Record : 9